Rabu, 17 Agustus 2016

[KG-225/2016] Upacara Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke- 71 Di Stasiun Gambir

JaKaRTa : Upacara ritual tahunan ini udah berlangsung lama di lingkungan PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan afiliasinya. Tahun ini, penyelenggaraan upacara 17 Agustus 2016 berlangsung di Daop dan Divre masing2. Anak perusahaan ikut area Daop / Divre terdekat

Di Jakarta, bertempat di halaman parkir Stasiun Gambir Jakarta, dilaksanakan upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI ke- 71 yang diikuti oleh SM/ M, PD, SHE, Polsuska, Asman, siswa BPPT dan semua anak perusahaan beserta jajaran yang melebur jadi satu di Gambir.

Bertindak selaku pembina upacara HUT Kemerdekaan RI di Stasiun Gambir, yakni D1, yang sekaligus membacakan  amanat Direktur Utama PT. KAI ( Persero ) yang menekankan pada, "tantangan apapun yang kita hadapi saat ini harus kita jawab dengan memfokuskan diri pada kerja nyata secara mandiri dan berkarakter, sebagai wujud kepedulian insan Kereta Api untuk Bangsa".

Prosesi Upacara HUT Kemerdekaan RI berjalan dengan tertib dan khidmad. Seperti biasa usai upacara, mayoritas peserta berfoto selfie ato foto bareng di halaman parkir, hingga perjalanan pulang ke kantor ato mampir di warung sepanjang perjalanan. Apalagi KALOGers, beuuuuh !

Bahkan saat mo nyebrang di depan kantor KALOG, ada rombongan tim sepatu roda sedang menggelar aksi sambil menyanyikan lagu bertemakan perjuangan yakni Hari Merdeka - karya H. Mutahar.

Dengan semangat perjuangan, ayo kita teruskan cita2 para pejuang dimasa lalu, dengan menggelar karya yang berguna bagi kehidupan nusa dan bangsa tercinta. Setidaknya menanam bibit integritas dan jujur bagi generasi selanjutnya.

Yang bikin salut. Walau berada di dekat lokasi tambang batubara namun untuk menghormati jasa2 para pahlawan. Pagi ini diadakan upacara khusus di stockpile SCT pimpinan Riestu Rimba. Begitu juga yang tengah berada di suatu tempat, tetap menghormati Merah Putih.

Yuuuk kita simak foto2 KALOGers ngapain aja setelah upacara peringatan HUT RI ke-71 karena selama upacara khan gak boleh berisik dan kudu ngikutin ritual secara khidmat.
M E R D E K A !


(berikut ini kami tampilkan sebuah tulisan yang gak memuat siapa penulisnya, mohon ijin. red)

"BANGSA INI DIBANGUN OLEH BAPAK-BAPAK BANGSA YANG TIDAK  PENDENDAM"

Perhatikan komentar Buya Hamka atas pemenjaraan dirinya oleh Bung Karno, *"Saya tidak pernah dendam kepada orang yang menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa. Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa semua itu merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan Kitab Tafsir Al-Qur’an 30 juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan itu.”

Meskipun secara politik berseberangan, Soekarno tetap menghormati keulamaan Hamka. Menjelang wafatnya, Soekarno berpesan, “Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku…”

Meskipun banyak yang tak setuju, Buya Hamka dengan ikhlas memenuhi wasiat Soekarno memimpin shalat jenazah tokoh yang pernah menjebloskannya ke penjara itu.

Bangsa ini dibangun oleh para negarawan yang tegas tapi santun ...

Karena kritiknya yang tegas pada Orde Baru, Mohammad Natsir bersama kelompok Petisi 50 dicekal. Natsir dilarang untuk melakukan kunjungan luar negeri seperti mengikuti Konferensi Rabithah Alam Islami. Bahkan Natsir tidak mendapat izin untuk ke Malaysia menerima gelar doktor kehormatan dari Universiti Kebangsaan Malaysia dan Universiti Sains Pulau Pinang.

Di balik kritik yang ia lancarkan, ia tetap bersikap santun. Misalnya pada beberapa kali perayaan Idul Fitri, ia selalu saja hadir dalam acara silaturahmi di kediaman Soeharto di Cendana, meskipun keberadaannya seringkali tidak ditanggapi oleh Soeharto saat itu.

Bahkan bukan hanya bersikap santun, ia secara sadar juga turut membantu pemerintahan Orde Baru untuk kepentingan pemerintah sendiri. Misalnya, ia membantu mengontak pemerintah Kuwait agar dapat menanam modal di Indonesia dan meyakinkan pemerintah Jepang tentang kesungguhan Orde Baru membangun ekonomi.

Bangsa ini berdiri karena para founding fathers yang toleran dan penuh empati ...

Prawoto Mangkusasmito, Ketua Umum Masyumi setelah Mohammad Natsir, hidup sangat sederhana bahkan tak punya rumah. Ketua Umum Partai Katolik Indonesia, IJ Kasimo berinisiatif menginisiasi urunan untuk membelikan rumah bagi Prawoto.

Bangsa ini besar karena kesederhanaan pemimpinnya.

Bung Hatta pernah punya mimpi untuk membeli sepatu Bally. Dia menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya. Ia kemudian menabung, mengumpulkan uangnya sedikit demi sedikit agar bisa membeli sepatu idaman tersebut.

Namun, apa yang terjadi ?

Ternyata uang tabungan tidak pernah mencukupi untuk membeli sepatu Bally. Uang tabungannya terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu orang-orang yang datang kepadanya guna meminta pertolongan.

Alhasil, keinginan Bung Hatta untuk membeli sepasang sepatu Bally tak pernah kesampaian hingga akhir hayatnya. Bahkan, yang lebih mengharukan, ternyata hingga wafat, guntingan iklan sepatu Bally tersebut masih tersimpan dengan baik.

Bangsa ini kokoh karena pemimpinnya menjunjung fairness ...

Ketika hubungan Soekarno dan Hatta merenggang, beberapa orang yang pro Soekarno tidak mencantumkan nama Hatta pada teks proklamasi. Soekarno dengan marah menegur, “Orang boleh benci pada seseorang ! Aku kadang-kadang saling gebug dengan Hatta !! Tapi menghilangkan Hatta dari teks proooklaamaasii, itu perbuatan pengecut !!!”.

Hari ini kita menentukan apakah bangsa ini jadi pemenang atau pengecut.
Jadi besar atau kerdil.
Jadi pemaaf atau pendendam.
Jadi penuh empati atau suka menghakimi.
Jadi penyebar damai atau penebar fitnah.

Yang akan menentukan masa depan bangsa ini bukan hanya siapa yang terpilih, tapi juga bagaimana sikap pendukungnya.

Bukan hanya menghargai siapa yang menang, tapi juga mengapresiasi mereka yang berjiwa besar menyikapi kekalahannya.


Selamat ulang tahun kemerdekaan ke 71 Indonesia-ku....... M E R D E K A. !

Catet tuh, catet !

Sumber : KALOG / Foto : RAM.

[English Free Translation]
In Jakarta, located in the parking lot of Gambir Station Jakarta, PT Kereta Api Indonesia (Persero) held 71st memorial ceremony of Independence Day, followed by all employees Daop 1 Jak and staffs, representatives of the holding company and subsidiary companies. MERDEKA !

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar