Rabu, 16 April 2014

[KA-103/2014] Pelatihan Pembentukan Pribadi Efektif 15-24/04/14

JaKaRTa: Komitmen PT Kereta Api Indonesia (Persero) selaku induk perusahaan dan sebagai bentuk tanggung jawab berkelanjutan, menggelar pelatihan mental yang diharapkan mampu melahirkan putera-puteri terbaik di perusahaan pelat merah ini.

Tak terkecuali anak perusahaan mendapat perlakuan yang sama - seperti halnya Program Studi Banding (PSB) Ke Negeri RRCina hingga saat ini – PT KAI ingin memiliki sumber daya manusia (SDM) yang handal agar bisa meraih prestasi optimal.

Memperhatikan telex dari PT Kereta Api Indonesia (Persero) nomor emt/dl.101/iv/10/2014 tanggal 07 April 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan Pembentukan Pribadi Efektif (P3E) tahun 2014, tercatatlah nama-nama peserta dari PT Kereta Api Logistik (KALOG).

Oh ya, program pelatihan ini akan diadakan di Pusdikhub TNI AD Cimahi, mulai tanggal 15-24 April 2014. Pastinya rame karena sebelumnya hanya berlaku di induk, sekarang mulai turun ke anak perusahaan.

Berikut ini nama para peserta P3E Batch 1, yakni : Rikeu Agusriatin, Nurhasanah, Arie Hasto Susanto, Rendy Pramudinta, Supriyanto, Rastriandi, Endro Cahyono, Muhammad Yusuf, Yoga Pramudita Hidayat dan Nanda Yuswanda.

Dalam foto berikut ini tampak antusiasme peserta pelatihan saat diperiksa oleh Kapusdiklat hingga saat penyematan tanda siswa. Rencananya tahun ini bakal ada 6 Batch. Selamat berjuang dan semoga sukses Bro’.



Sumber :  TU Pusdiklat Bandung.

[English Free Translation]
Located at the Pusdikhub TNI AD Cimahi, ten (10) employees of PT Kereta Api Logistik (KALOG) following the "establisment of effective personal training", starting on 15-24/04/2014. Congrats!

Senin, 14 April 2014

[KU-102/2014] Seeing Is Believing (Jonan & Evolusi Kereta Api Indonesia)

JAKARTA: Rabu kemarin (tepatnya tgl 19/03/14 – redaksi) saya berkesempatan untuk ikut menghadiri sebuah acara pameran printing terbesar di kota Solo. Kebetulan bos mengajak saya untuk menemani lantaran pimpinan cabang yang biasa menjadi travel mate-nya sedang menjaga istrinya yang kurang sehat. Jadilah saya pergi dengan syarat tidak terlalu lama, karena jujur saja, saya masih belum bisa meninggalkan anak saya terlalu lama (paling tidak untuk saat ini sih).

Berangkatlah kami dengan pilihan transportasi jalur darat yakni, kereta api. Sejujurnya, ini adalah salah satu hal yang bikin saya antusias untuk pergi, dan bukan karena ingin mengetahui inovasi apalagi yang baru saja keluar di industri printing. Selain tentu saja, traveling ke kota Surakarta yang pernah jadi keinginan untuk melancong bersama anak istri. Pilihan jatuh kepada KA Argo Lawu, jurusan Gambir-Solo Balapan dengan jadwal keberangkatan jam 20.20 WIB.

Ada dua alasan yang membuat saya sangat antusias bepergian dengan kereta kali ini. Pertama, saya belum pernah pergi jarak jauh menggunakan kereta api, sekalipun untuk pulang kampung ke tanah kelahiran orang tua. Kedua, adalah buku dari Dirut PTKAI yang berjudul (Ignasius) Jonan dan Evolusi Kereta Api Indonesia. Buku ini adalah buku Indonesia pertama yang saya baca mengenai sebuah turn around perusahaan besar yang pernah terjadi di negeri ini. Di kisahkan dari awal berbagai macam rintangan Jonan dalam merubah budaya para pekerja KAI yang memiliki mindset instansi menjadi korporasi. Banyak sekali tantangan internal dalam melakukan transformasi di tubuh BUMN ini, belum lagi dari pihak eksternal yaitu masyarakat dan pemerintah sendiri. Inti dari buku ini adalah, Kereta Api Indonesia kini sudah berubah. Oh ya..? Sebelum menghakimi, saya harus buktiin sendiri dong..

Tindakan pertama saya adalah, membuktikan bahwa kini membeli tiket Kereta Api bisa sama mudahnya dengan tiket pesawat terbang. Masuklah saya ke sebuah situs penyedia tiket lokal dan memesan untuk perjalanan dua orang jurusan Solo Balapan. Tinggal pilih jadwal yang tersedia, masukkan nama penumpang dan nomer identitas sesuai dengan KTP/SIM/Kartu Pelajar. Ini untuk menjamin bahwa satu tiket untuk satu kursi saja, dan hanya bisa digunakan oleh yang namanya tertera. Gimana nggak mati kutu ini calo tiket..hahaha. Menariknya, dalam proses pemesanan tiket pesawat malah tidak seketat ini lho, kita masih bisa terbang dengan menggunakan nama orang lain. Bahkan kadang dengan jenis kelamin berbeda kita tetap bisa melenggang masuk pesawat. Well done Pak Jon..!!


Dengan membawa voucher tiket, datanglah saya sekitar jam 19.00 WIB di Gambir. Saya pun langsung mencari petugas untuk menanyakan proses menukar voucher dengan tiket asli Argo Lawu. Ternyata, di stasiun kita diarahkan untuk melakukan penukaran sendiri (self service). Pihak stasiun telah menyiapkan sebuah komputer layar sentuh yang besar dan terkoneksi internet lengkap dengan printer serta blangko tiketnya. Kita tinggal masukkan kode booking serta nomer identitas yang digunakan ketika memesan online. Maka printer akan langsung mencetak tiket, tanpa perlu antri di loket konvensional. Begitupun ketika saya check in di Solo Balapan. Another credit for you, Sir.

Setelah tiket asli di tangan, kami memutuskan untuk mengisi perut sebelum perjalan panjang sebentar lagi. Waah serasa masuk ke food court di dalam mall di Jakarta lho. Persis deh. Selesai santap malam, waktu menunjukkan pukul 20.10 WIB, Kami menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah warung kopi yang ada di dekat pintu masuk stasiun. Warkop itu bernama Starbucks Coffee..hohoho. Ini baru namanya pencitraan yang bener. Lalu bergegaslah kami menuju gerbong yang telah menanti sejak tadi ternyata. Kereta pun akhirnya melaju tepat pukul 20.20 WIB sesuai dengan jadwal yang tercantum di tiket. Hmmm..sepertinya Iwan Fals harus mengubah syair lagunya nih..hehehe.

Oh iya, untuk masuk ke dalam stasiun kita harus lolos pemeriksaan tiket dengan kartu identitas. Bukan isapan jempol belaka rupanya. Begitu naik ke peron, saya menemukan kondisi yang steril dari para pedagang asongan maupun pengamen dan pengemis jalanan yang dulu sangat identik dengan stasiun. Saya lantas teringat sebuah kisah di balik normalisasi peron yang dilakukan Jonan dan jajarannya. Ketika proses pembongkaran lapak di stasiun Universitas Indonesia, PT KAI mendapati perlawanan dari BEM UI serta Komnas HAM yang menentang eksekusi peron dari pedagang kaki lima. KAI dianggap tidak manusiawi dan mematikan kehidupan pedagang kecil. 

Tapi Jonan jalan terus, baginya KAI hanya mengambil kembali asset miliknya yang ditempati secara ilegal oleh para pedagang itu, dan masalah relokasi adalah tanggung jawab dari pemda, bukan PT KAI. Namun BEM UI dan Komnas HAM tidak berhenti sampai disitu, hingga akhirnya Jonan memberikan solusi yang sangat brilian menurut saya (dan akan selalu saya ingat). Jonan mengatakan kalau memang BEM UI dan Komnas HAM peduli dengan kehidupan para pedagang, maka ia bersedia menampung sepertiga dari pedagang tadi, dan menantang agar sepertiga di tampung oleh BEM UI serta sepertiga lainnya oleh Komnas HAM..!! Adil toh..? Hahahaha..Very smart. Mafia tiket yang udah karatan aja dibikin mati kutu, apalagi anak kemarin sore yang masih nyusu coba..?

Ada lagi kisah lain yang menceritakan seorang mahasiswi UI yang merajuk langsung kepadanya bahwa ia bisa kehilangan masa depan lantaran lapak jualan orang tuanya di stasiun di bongkar oleh KAI. Tau apa jawabannya? "Kuliahmu saya tanggung sampai selesai". Wuih..ini ibarat counter attack di injury time dan menghasilkan gol kemenangan namanya. Solusi yang Low cost high impact..nggak sembarang orang lho bisa kasih respon begini.


Impresi saya yang pertama ketika masuk ke dalam gerbong eksekutif adalah, rasa nyaman yang belum pernah saya bayangkan ada di atas kereta api negeri ini. Kursi yang empuk, sebuah sandaran kaki (terletak di bagian depan kursi), sebuah bantal kecil serta sehelai selimut. Cukup nyaman pikir saya untuk bisa tidur sebelum besok langsung datang ke pameran. Sayangnya, harapan saya tidak terwujud karena semua lampu dalam gerbong terus menyala sepanjang perjalanan.

Terlebih lagi perut saya yang kelaparan tidak juga menemui Pramugari yang padahal sejak awal keberangkatan rajin sekali menjajakan makanan kepada penumpang (tadinya karena perut masih kenyang, saya berencana untuk membeli sesuatu untuk di makan ketika tengah malam). Jadi kangen pedagang asongan..hihi. Lengkaplah sudah penderitaan saya menjadi Jamah Al Insomniyah malam itu. Untuk masalah lampu yang terus menyala itu, terus terang saya tidak mengerti alasan di baliknya. Apakah karena faktor keselamatan barang-barang penumpang atau memang itu sudah menjadi SOP. Tapi yang jelas, saya tidak bisa tidur dengan keadaan lampu menyala.

Akhirnya, saya baru bisa mencicipi layanan Reska (restoran kereta api) ketika perjalanan menuju Jakarta. Saya memesan kopi hitam seharga Rp.10.000,-/cup serta nasi goreng senilai Rp. 30.000,-/porsi. Untuk rasanya, jangan di tanya lah ya..cuma bisa bikin perut agak sedikit penuh aja, pun demikian dengan kopinya. Oh ya, saya tadinya sudah bersiap untuk makan dengan tangan kiri memegang piring serta tangan kanan memegang sendok untuk menyuap. Karena saya tidak menemukan adanya meja makan lipat di hadapan saya seperti di dalam pesawat. Eh, ternyata meja makannya ada di bawah sandaran tangan kita lho..hehehe. Katrok banget ya saya? :D

Selama perjalanan ada beberapa kejadian yang menarik perhatian saya selain air toilet yang selalu tersedia. Pertama, pintu antar gerbong kereta saat ini sudah otomatis, artinya kita harus menekan tombol untuk membukanya dan pintu akan menutup dengan sendirinya dengan jeda waktu beberapa detik. Nah untuk kasus ini, rupanya masyarakat kita belum sepenuhnya teredukasi dengan teknologi yang baru buat sebagian penumpang. Ada beberapa penumpang yang membuka secara paksa lantaran belum mengetahui kalau pintu bisa dibuka dengan menekan tombol di sebelah pintu. 

Hal ini di perparah oleh kesalahan PT KAI yang memasang stiker di dekat tombol, bukan di dekat handle pintu. Karena secara refleks, orang akan menggapai handle pintu ketika akan membuka pintu. Semakin mereka sulit membuka dengan handle, semakin keras usaha mereka untuk menutupi rasa malu di depan umum. Sayang kan, gara-gara hal sepele pintu jadi rusak. Semoga bisa segera di perbaiki oleh PT KAI.

Kedua, ketika sampai di stasiun Jatinegara (kalau tidak salah) seorang petugas (kebersihan sepertinya) menemukan bahwa penumpang di depan kursi saya meninggalkan charger hand phone miliknya. Kontan petugas itu langsung lari keluar dan mengejar penumpang tadi, dan saya tidak melihatnya lagi hingga pintu gerbong menutup dan melanjutkan perjalanan menuju Gambir. Terlihat sepele memang. Tapi saya sendiri telah mengalami dan menyaksikan sendiri dampak dari perbuatan itu bagi perusahaan.


Saya pernah mengalami bagaimana pihak Solaria Pejaten Village menyimpan harta benda istri saya yang terdiri dari dua hand phone yang tertinggal sehari sebelumnya. Terlebih mereka menolak dengan sangat halus imbalan yang berusaha kami berikan bahkan ketika kami melipatkan nilainya. Sejak saat itu, saya akan selalu menjadi penggemar nomer satu dari restoran itu. Sekalipun saya pernah menemui tikus kecil berkeliaran bawah meja saya di Solaria cabang yang sama. 

Contoh lain adalah di tempat saya bekerja. Barang yang paling sering tertinggal adalah flash disk milik pelanggan. Sering kali saya mendapati ekspresi pelanggan yang berterima kasih secara sangat, sangat tulus. Tak jarang mereka mengirimkan makanan kecil kemudian hari, karena kami juga dilarang keras menerima pemberian secara langsung dari pelanggan.

Flash disk bukan barang mahal, begitu pula dengan charger. Namun kita tidak akan pernah tau seberapa besar nilai emosional atau historis dari benda tersebut. Lagi-lagi, Low Cost High Impact. Akan terjadi anchoring dan naiknya trust pelanggan terhadap brand kita. Setelah saya menyaksikan bahwa tindakan itu dilakukan oleh jajaran terendah di KAI, barulah saya yakin kalau transformasi telah dan sedang berlangsung di tubuh BUMN ini. 

Perubahan selalu tergambar dari tindakan, bukan sekedar slogan. Yes, Seeing is believing..and now I believe.

Maju Terus Pak Jonan dan jajaran, Kereta Api milik negeri. Bravo KAI..!!

Sumber : Kompasiana, Oleh : Resi Asmoro, 20.03.14 / Kredit Foto : Kombinasi.

[English Free Translation]
A sharing of experiences written by a user of rail service named Resi Asmoro and his writings published in Kompasiana some time ago. Constructive opinions and input to a corporation by PT Kereta Api Indonesia (Persero) are needed for future improvement.


Minggu, 13 April 2014

[KA-101/2014] Ignasius Jonan Jadi Guest Speaker YLI

JaKaRTa: Inilah aktifitas tambahan pimpinan tertinggi di institusi pelat merah, PT Kereta Api Indonesia (Persero), Ignasius Jonan. Selain harus menata dan menjaga performa yang telah ditorehkan selama 5 (lima) tahun pertama, kini banyak kerjaan tambahan yang disambinya.

Memang gak semua perusahaan bisa mengundang beliau karena waktunya super-padat, sampai-sampai di hari Sabtu Minggu di lingkungan kerjanya ada yang namanya “Piket Sabtu Minggu” alias “Pisami”. Tapi itulah tugas abdi negara.

Perlu pengorbanan tersendiri, seperti halnya dokter, petugas TNI dan kepolisian. Waktunya jaga, gak ada alasan ini-itu, wajib hukumnya. Bukannya tidak boleh ‘loh, tapi mbok ya diatur, gitu. Jadi fleksibel ditengah kedisiplinan tinggi.

Alangkah beruntungnya bagi institusi ato perusahaan yang berhasil mengundang KAI1 untuk berbagi pengalaman. Minggu ini yang beruntung adalah para mahasiswa yang menyelenggarakan “Young Leader for Indonesia (YLI) National 2014” .

Bertempat di Hotel Borobudur Intercontinental, Direktur Utama PT KAI membagikan pengalamannya didepan sekitar 60 peserta, hari Sabtu 12/04 pagi. Acara berlangsung meriah, diisi dengan sesi dialog interaktif dan tanya jawab. Top !

KAI1 menjelaskan mulai dari perubahan yang terjadi di internal perusahaan, kendala dan solusi yang ditawarkan. Usai menjadi guest speaker, KAI1 diberi cinderamata dan diperlihatkan kepada para peserta, sebelum akhirnya berfoto bersama.

Congrats !



Sumber : PT KAI / Foto : Humaska.  

[English Free Translation]

Saturday 12/04, located at Borobudur Intercontinental Hotel, Director of PT Kereta Api Indonesia (Persero), Ignasius Jonan invited to be a guest speaker on the "Young Leaders for Indonesia (YLI) National 2014". The event took place lively, filled with interactive dialogue and full of warmth.


Sabtu, 12 April 2014

[KG-100/2014] Acara Pernikahan Rofiq + Dera 12/04/14

JaKaRTa: Ini bukan pernikahan antara Rofiq sama Dera ‘loh ya. Tapi Rofiq menikah dengan pasangannya, begitu juga Dera dengan pasangannya. Yang pasti, cewek banget. Kalo baca judulnya doank, ya mohon maaf, bisa timbul salah tafsir dan salah alamat ha ha ha.

Ahmad Rofiq (panggilan akrabnya Rofiq) meminang Fitriani Rahayu (disapa Fitri), melangsungkan acara akad nikahnya hari Sabtu 12/04 mulai jam 08.00 bertempat di kediaman mempelai wanita di Joglo sana deh.

Nah, resepsinya diadakan di kediaman mempelai wanita juga, mulai pukul 11.00 – 17.00. Setelah itu acara khusus dan sangat disayangkan dilarang meliput he he he. Perwakilan KALOG pastinya hadir juga.

Pengantin ke-2 yakni Dera Pranadipa Koestanto mengikat pujaan hatinya, Santi Indah Triana, untuk berikrar sehidup semati membina rumah tangga yang sakinah mawahdah warohmah. Semoga terwujud ya.

Akad nikah dan resepsinya diadakan di hari Sabtu 12/04 juga (mungkin udah janjian nih), beda waktu aja. Akad diadakan jam 08.00 sampe selesai, bertempat di Gedung Klub Eksekutif Persada (daerah Halim Perdanakusuma sono) dan acara resepsinya mulai jam 11.00-13.00.


Untuk kedua pengantin, kami mengucapkan selamat menempuh hidup baru dan pasti akan berujung pada penyesalan. Dijamin. Nyesel kenapa gak married dari dulu ya ha ha ha.

Sumber : KALOG.

[English Free Translation]
On the same day, Saturday, 12/04, two KALOGers release their single status and establish more close relationship with their partner. Congratulations for both young couples :  Rofiq + Fitri and Dera + Santi. Happy Wedding Day !

Jumat, 11 April 2014

[KG-099/2014] Joint Survey Ke Merak - 11/04/14

JaKaRTa: Hari Jumat 11/04 tim KALOG, GPI Group dan PT KAI Kantor Pusat maupun Daop 1 melaksanakan survei bareng ke Merak, dengan target kunjungan ke Terminal Tonjong Baru, Stasiun Merak dan Pelabuhan Merak Mas, Banten.

TERMINAL TONJONG BARU : Melihat fasilitas CY yang pernah digunakan sebagai fasilitas bongkar muat namun akhirnya mangkrak hingga sekarang. Sedang diupayakan untuk menghidupkan kembali angkutan barang dari dan ke wilayah Merak dengan menggunakan moda kereta api (KA).

Tim KALOG, KAI dan GPI Group membicarakan secara inten perihal detil penggunaan lahan yang akan dipakai serta rencana perbaikan karena jalur rel KA sudah ditumbuhi alang-alang dan perlunya memperbaiki bantalan rel serta menambah ballast.



STASIUN MERAK : Kurang lebih 1 (satu) jam tim Pokja membahas berbagai kemungkinan tersebut dan akhirnya meneruslan perjalanan ke Stasiun Merak jam 10.00 dan tiba di lokasi jam 10.30. Survei dilakukan hingga menjelang Shalat Jum’at.

Secara fisik, melihat kondisi jaringan rel KA dan fasilitas pendukung, termasuk akses keluar truk / trailer, bila kontainer akan dilanjutkan ke terminal Merak Mas. Kepadatan lalu lintas penyeberangan akan menjadi kendala utama.






PELABUHAN MERAK MAS : Survei  lapangan menujukkan, potensi yang dimiliki Pelabuhan Merak Mas, Banten masih besar. Bayangin aja, kapasitas terpasang yang belum terpakai hampir 80 persen, jadi ya prospektif banget.  

Sengaja detilnya gak dicantumin disini karena itu kebutuhan internal. Yang pasti secara gambar, bisa dilihat kondisi-kondisi yang memungkinkan dengan yang belum memungkinkan. Failitas Gantry Crane, Reach Stacker, kapal sandar, aktifitas dll, so far ok.

Tinggal mencarikan celah, harus diapakan trailer dari Stasiun Merak ke Pelabuhan Merak mas. Jarak sangat dekat, kurang dari 1 km saja. Tetapi lalu lalang kendaraan kecil dan besar, lumayan banyak sehingga harus putar otak dan cari strategi yang jitu.



Akan segera dievaluasi dan hasilnya menyusul.

Sumber : KALOG / Foto : RAM.

[English Free Translation]
Friday 11/04, a BIG team consisting of KALOG, GPI Group and PT KAI Head Office and Daop 1 to carry out the survey to Merak, the target premises : visit Tonjong Baru Terminal, Merak Railway Station and Port of Merak Mas, Banten.