Selasa, 22 April 2014

[KU-109/2014] Rahudman Terseret 5 Surat

MEDAN: Tahun ini jadi masa yang paling berat bagi karir politik Walikota Medan nonaktif Rahudman Harahap. Sebelum dihukum Majelis Kasasi Mahkamah Agung dalam perkara korupsi TPAPD Tapanuli Selatan, Kejagung juga sudah menetapkan Rahudman sebagai tersangka pengalihan hak atas Lahan PT KAI di Jl. Jawa.

Status tersangka juga disematkan pada mantan walikota Abdillah dan Dirut PT ACK Handoko, berdasarkan surat perintah penyidikan yang sama. Berdasarkan penelusuran, Rahudman menerbitkan 5 surat terkait lahan Jl. Jawa, meski sudah tidak lagi menjabat Penjabat (Pj) Walikota Medan, 12 Februari 2010.

Salah satunya yaitu surat perjanjian tentang penyerahan tanah bagian dari hak pengelolaan Pemkot Medan kepada Dirut PT ACK Handoko, atas lahan seluas 26.620 m2 di Jl. Timor, Jl. Veteran, dan Jl. Jawa. Selain itu, Rahudman juga menandatangani surat permohonan hak atas pertapakan tanah kantor lurah di Gang Buntu, Kantor Polsekta Medan Timur, dan Masjid Al-Jihad, pada Dirut PT KAI di Jl. Perintis Kemerdekaan, Bandung.

(Di media yang sama, artikel lain terkait pencaplokan lahan milik negara oleh pihak swasta, jadi barang mainan. Baca juga ulasan dibawah ini ... redaksi)

Peradilan Ecek-ecek. Kutipan Wawancara dengan Dr. Hasyim Purba, Ketua Departemen Hukum Perdata Universitas Sumatera Utara (USU) Medan.

Ketua Departemen Hukum Perdata Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, Dr. Hasyim Purba mengatakan, Surat BPN Kota Medan yang menyebutkan status tanah di Jl. Jawa, Jl. Veteran, Jl. Timor, dan Jl. Madura, Kel. Gang Buntu, Kec. Medan Timur sebagai tanah yang dikuasai langsung oleh negara “bekas” hak eigendom perponding No. 33 atas nama gouverment van ned indie, tidak bisa dimaknai sebagai lahan tidak bertuan.

Pelepasan itu harus ada penyerahan. Menurut Hasyim, sebelum tanah itu dirobohkan bangunan-bangunan di atasnya, aset tersebut secara de facto yang berhak PT KAI. Jika kemudian PT KAI belum atau lupa mengurus berkas-berkas atas lahan tersebut, itu menjadi persoalan lain.

Tetapi aset tersebut tetap di bawah PT KAI pascanasionalisasi. Hasyim mengatakan, hak atas tanah itu tidak otomatis hilang. Hal ini sudah merupakan fakta. Tetapi ada “lego” menggunakan surat (BPN) untuk melakukan gugatan ke pengadilan.

BPN Medan yang hingga saat ini belum mengeluarkan hak atas tanah tersebut seharusnya kembali ke siapa dulu de facto yang memiliki lahan tersebut. Hasyim mengatakan, “Tidak ada tanah di republik saat ini tidak bertuan. Jika BPN menyatakan belum pernah dimohonkan haknya oleh siapapun setelah berakhir tahun 1961, otomatis lahan tersebut jatuh menjadi Hak Menguasai Negara (HMN).”

Lantas mengapa PN, PT dan MA memenangkan PT ACK jika tanah tersebut harusnya menjadi HMN? Hasyim mengatakan, “Itulah permainan. Pengadilan belum tentu semua adil. Saya dulu mengutarakan di Medan ini ada peradilan ecek-ecek. Putusan pengadilan itu digunakan untuk menjustifikasi permohonan hak.”

Sumber : Tribun Medan, 14.04.14.

Catatan :

Baca juga rujukan sebelumnya di : [KA-079/2014] Penandatanganan Kesepakatan Bersama BPN-PT KAI, [KU-072/2014] Dua Mantan Walikota Medan Jadi Tersangka Korupsi Pengalihan Hak Tanah PT KAI, [KA-067/2014] PT KAI Melawan Mafia Tanah dan Mafia Peradilan dan [KU-065/2014] Mafia Tanah Menang, Aset PT KAI Rawan Diserobot.

[English Free Translation]
Articles that include land disputes in the field in which one of them owned by PT Kereta Api Indonesia (Persero).

Senin, 21 April 2014

[KG-108/2014] 3rd Day "MY KALOG Tour 2014"

JaKaRTa: Ini adalah liputan hari ke-3 dan hari terakhir dalam runtutan "MY KALOG Tour 2014". Tujuannya pusat pemerintahan Malaysia yang dipusatkan di kawasan Putrajaya.

Sekedar gambaran saja, Putrajaya itu apa dan kenapa pemerintah negeri serumpun berniat banget membangunnya – siapa tahu ada yang masih awam. Inilah huebatnya Malaysia dan harus diakui, rakyat Indonesia kadang sulit membedakan penilaian positif dan negatif.

Putrajaya adalah kota terencana yang berlokasi sekitar 25 km dari ibukota Malaysia yakni Kuala Lumpur (KL). Karena sudah sedemikian krodit sikon di KL, maka tahun 1999 pusat pemerintahan dipindahkan ke Putrajaya. Tetapi, itu tadi kota ini dibangun dengan perencanaan matang, didukung niat dan komitmen.


Tanpa itu, mustahil terlaksana. Putrajaya lahir dari gagasan mantan PM Malaysia yang brilyan dan berkuasa bersamaan dengan mantan Presiden Soeharto (alm) semasa hidupnya. Dialah Dr. Mahathir Mohammad.

Tahun 2001, Putrajaya diakui sebagai wilayah federal ke-3 setelah KL dan Labuan. Nama Putra diambil dari PM pertama Malaysia, Tunku Abdul Rahman Putra dan lokasinya berada di sekitar “Multimedia Super Corridor” (MSC), bersebelahan dengan Cyberjaya.


Pemberian nama Putrajaya, bukan tanpa arti. “Putra” – seperti halnya di Indonesia – bisa memiliki arti sebagai pangeran ato anak laki-laki sedangkan “Jaya” artinya sukses ato berhasil. Pembangunannya dimulai tahun 1990-an dan kini menjadi salah satu ikon Malaysia.


Di hari terakhir ini, rombongan KALOG berangkat pagi jam 06.30 waktu setempat, masih subuh juga, sekaligus para peserta check-out, rombongan menuju Putrajaya yang berjarak lumayan jauh menggunakan bus.

Ketibaan kami di Putrajaya hanya sesa'at, kerena kami nak pergi ke terminal antarbangsa KLIA 'tuk kembali ke Tanah Air he he he (bahasa campur sari ato campur aduk ya ?). Pokoke gaul ! Hanya berfoto 10 menit lantas kami pergi.

Cak ini hasil liputan sesa'at di Putrajaya. Bisa jadi, nantinya bakal ada foto susulan yang diambil oleh para peserta lain dengan sudut pengambilan lebih beragam. Tunggu saatnya ya.

Berhubung kami mengawal tim Sumatera Selatan (Sumsel) maka kewajiban kami memastikan warga KALOG yang mengurusi batu bara, kembali dalam keadaan sehat dan selamat serta lancar sampai di tujuan.

Subhanallah walhamdulillah. Mancarli. Terima kasih Yaa Allah. Semoga perjalanan ini barokah dan membawa pelajaran berarti, minimal bagi setiap orang yang sudah melihat kemajuan Malaysia dari dekat dan dengan mata kepala sendiri.

Sedikit ada oleh-oleh mampir di Palembang, mampir beli pempek, shalat di Mesjid Agung dan mejeng di Bandara Sultan Mahmud Badarudin II he he he.

Sumber : KALOG / Foto : RAM.

[English Free Translation]
Day 3, taking the time to stop by to Putrajaya area. Incredible and futuristic city. Planned cities with sophisticated shape of the building and the Malaysian government's commitment to build a government outside the capital city. Amazing !

Minggu, 20 April 2014

[KG-107/2014] 2nd Day "MY KALOG Tour 2014" (part 2/2)

KuaLa LuMPuR : Dokumentasi sambungan di hari ke-2, berwisata keliling KL. Selamat menikmati ya.

Usai cuci mata di Genting, peserta dihibur dengan makan siang yang nikmat di sekitar Genting, udara sejuk dan segar, menambah nikmatnya suasana jalan-jalan di negeri Jiran. Oh iya nama tempatnya : Restoran Makanan Laut F30.

Dalam hati suka ada rasa ngiri dengan Malaysia yang mampu menarik minat wisatawan segitu banyak, setidaknya bisa dibuktikan sewaktu turun di LCCT, kemudian di Little China alias Pecinan ato tempat makan yang tersebar di KL. Memang harus diakui, Malaysia bagus di sisi promosi dan penataan infrastruktur. Kagum kita dibuatnya.


Usai makan-makan, perjalanan lanjut ke Istana Negara yang baru dan hanya boleh berfoto, diberi waktu 10 menit doank. Setelah itu, next target : pabrik cokelat “Berly” di salah satu penjuru kota KL yang konon cukup terkenal berkat kombinasi rasanya.



Setelah Beryl's Chocolate Kingdom, barulah Twin Tower Petronas yang menjadi ikon kota KL dan Malaysia sebagai sebuah negeri.




Di acara makan malam, ada penobatan “Lino Award” yakni : Karyawan Ter-Eksis : Juda Hernanto, Karyawan Ter-Heboh : Citra Gunawan, Karyawan Paling Rempong : Dony Danaraksa dan Karyawan Yang Wartawan : RAM.  



Secara keseluruhan, mancarli. Acara ditutup oleh Direktur Keuangan, Gigis Saptono, di Johny’s Restaurant. Good nite.

Sumber : KALOG / Foto : RAM.

[English Free Translation]
The following pictures coverages 2nd day tour in KL, traveling to Beryl’s Chocolate Kingdom, Petronas Twin Tower and dinner.

Sabtu, 19 April 2014

[KG-106/2014] 2nd Day "MY KALOG Tour 2014" (part.1/2)

KuaLa LuMPuR : Suasana hari ke-2, jadual terpadat selama tur ke Negeri Jiran. Mulai sarapan pagi jam 07.30 (ngaret dikit karena Kopitiam sebelah hotel baru buka jam 08.00), langsung nyamber makanan yang ada dan bersiap jalan-jalan.







Tujuan pertama, nyambangi patung Dewa Murga - jam 08.50 . Biasa deh, foto bareng dan dilanjut foto narsis masing-masing peserta (ssst, hak azasi tuh). Setelah itu menyempatkan belanja dikit (waktu terbatas) di Jenewa (bukan di Swiss, kejauhan dan gak sempat berfoto, rempong bo), di deket situ koq.


Tujuan berikutnya, Genting Highland. Moda yang dipakai untuk menuju Genting yakni skylift (mirip di TMII) tetapi warga di negeri Jiran menyebutnya “Genting Skyway”. Putar-puter mau ke kasino karena bukan budaya kita, ya cuma curi-curi pandang sekitar arena saja. Curi yang lain bisa kena kasus xi xi xi.



Berhubung dokumentasinya cukup panjang, liputan hari ke-2 kami pilah jadi 2 (dua) bagian.

(bersambung ... / to be continued ...)

Sumber : KALOG / Foto : RAM.

[English Free Translation]
The following pictures coverages 2nd day tour in KL, especially during breakfast and preparation.