Selasa, 09 Juni 2015

[KU-157/2015] KALOG Fokus Kembangkan Pelabuhan Srengsem

JAKARTA: PT Kereta Api Logistik (KALOG) anak perusahaan PT Kereta Api Indonesia, membidik pengembangan usaha di Sumatera Selatan dan Lampung dengan mengoperasikan Pelabuhan Srengsem, Lampung sebagai dry-port dengan investasi Rp 2 trilyun.

Presiden Direktur PT KALOG, Budi Noviantoro mengatakan produktifitas batubara di Sumsel sangat tinggi sehingga dibutuhkan pelabuhan khusus angkutan batubara di Pelabuhan Srengsem, Lampung.

“Kami melihat dari margin akan sangat besar karena kami ngak ada pesaing. Dengan begitu kami bisa mendapatkan keuntungan untuk mengembangkan bisnisnya di daerah lain”, katanya kepada Bisnis, Jumat (05/06).

Menurutnya, pelabuhan itu merupakan milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang masih menganggur.

Oleh karena itu, dia menegaskan pihaknya akan bekerja sama dengan pihak swasta untuk membangun kebutuhan loading unloading batubara menuju pelabuhan agar diangkut langsung oleh kapal.

Saat ini, pihaknya mengoperasikan 4 (empat) bidang yakni jasa kurir, angkutan semen, peti kemas dan loading unloading (LO/LO) batubara.

“Saat ini, sudah ada satu gantry crane (GC) yang kami disain sendiri untuk mengangkut batubara langsung dari kereta. Kalau sekarang kan masih manual. Baru satu GC, rencananya dua. Satu lagi mudah-mudahan juli ini sudah datang,” ucapnya.

Dia telah membidik beberapa perusahaan yang sudah bekerjasama untuk menggunakan jasa PT KALOG.

“Kira-kira nanti akan kita kelola pastinya 20 juta ton yang pasti akan bertambah. Dari jumlah itu saja tentunya keuntungannya sudah terlihat,” paparnya.

Dia juga akan membangun jalur KA yang bisa langsung masuk ke pelabuhan dan memudahkan pengangkutan batubara hingga masuk ke kapal.

“Kami akan membangun jalur short-cut dari Kertapati yang bisa memotong hingga 100 km, yang tadinya 409 km jadi 309 km melalui beberapa stasiun di Sumatera Selatan yang akan masuk ke Lampung,” katanya.

TAHUN DEPAN

Dia menargetkan pelabuhan tersebut dapat beroperasi tahun depan. Saat ini, pihaknya masih memenuhi prosedur dengan membuat analisis dampak lingkungan (AMDAL) yang ditargetkan selesai September 2015. Setelah itu, PT KALOG akan langsung mengurus izin.
“Keuntungan ya US$70 juta lebih pasti itu,” katanya.

Dengan mendapat keuntungan, imbuhnya, PT KALOG dapat mengembangkan bisnis angkutan semennya yang besar di Pulau Jawa.

“Sekarang kan pesaingnya banyak seperti angkutan darat lain. Saat ini sih kami angkut masih kurang normal, kami targetkan nanti angkutan semen bisa naik,” imbuhnya.

Pada kuartal I/2015 Budi memaparkan pendapatan perusahaannya mengalami penurunan hingga 4 % yang juga merupakan akibat dari turunnya perekonomian dunia.

“Mei kemarin sih sudah terlihat kenaikan lagi, ya yang biasanya bisa dapat Rp 1 milyar tiga bulan ke belakang hanya Rp 800 juta,” bebernya.

Untuk angkutan kontainer, Budi belum akan mengembangkan usaha di bidang tersebut karena banyaknya polemik dan kecilnya keuntungan dari bisnis itu. “Kalau peti kemas ya ikuti saja dulu lah,” tegasnya.

Sumber : Bisnis Indonesia, 09.06.15.

[English Free Translation]
PT Kereta Api Logistik (KALOG) a subsidiary of PT Kereta Api Indonesia, aiming for business development in South Sumatera and Lampung with operating the Port of Srengsem, Lampung as dry-port with an investment of Rp 2 trillion.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar