Senin, 06 Januari 2014

[KU-006/2014] Jonan : Kami Ingin Pemerintah Yakin

Wawancara khusus dengan Dirut PT KAI, Ignasius Jonan.

Di tengah kompleksitas masalah transportasi di Tanah Air, PT KAI terus membuat terobosan perbaikan pelayanan. Direksi BUMN tersebut mengubah wajah perusahaan yang semula lesu menjadi segar dan menarik. KAI kini menjadi perusahaan yang berorientasi pelayanan konsumen.

Langkah-langkah penting itu diceritakan Dirut PT KAI, Ignasius Jonan pada 26 Desember lalu dalam suasana yang santai dan egaliter. Berikut petikan wawancara Kompas dengan Ignasius Jonan tentang berbagai upaya PT KAI demi memanjakan penumpang.

Tiga tahun terakhir wajah PT KAI berubah, terjadi peningkatan layanan yang signifikan bagaimana meraih pencapaian itu?
Hal yang kami lakukan adalah meningkatkan kualitas SDM terutama dalam hal pelayanan, kompetensi khusus pengoperasian dan pemeliharaan sarana perkeretaapian, pemasaran, keamanan, dan teknologi informasi. Peningkatan SDM ini mendorong meningkatnya integritas, produktivitas, dan antusiasme pegawai. Upaya-upaya tersebut diharapkan mendorong PT KAI menjadi perusahaan yang memilikidaya saing tinggi.

Tantangan apa yang Anda hadapi ketika mereformasi PT KAI?
Jujur saja, ini tidak mudah. Perlu kerja keras mencapai itu. Tantangan datang dari internal ataupun luar perusahaan. Kami berangkat dari kualitas layanan yang berantakan. Sebelumnya pembelian tiket kereta hanya di tulis di secarik kertas. Petugas juga tidak peduli. Mereka hanya memikirkan bagaimana cara mengangkut orang tanpa melihat apakah mereka bayar atau tidak. Ini sangat fatal karena menghilangkan hak para konsumen. Mereka tidak mendapatkan pelayanan yang baik sehingga kemudian enggan menggunakan moda angkutan kereta api.

Sementara itu tantangan dari luar adalah masih adanya perilaku buruk orang dengan merusak sarana kereta. Dari tahun ke tahun jumlahnya naik turun ini membutuhkan kerjasama semua pihak. Untuk memperbaiki semua itu, perlu organisasi yang bagus. Karena itu, perlu pemimpin yang kuat, memberi contoh baik, memiliki kepedulian , dan bertanggung jawab pada tugas. Ada peningkatan remunerasi pegawai, misalnya gaji masinis yang semula Rp 2 juta-Rp 3 Juta per bulan, kami tingkatkan jadi Rp 8 juta-Rp 10 juta per bulan. Bentuk penghargaan semacam itu memberikan banyak keuntungan karena mereka semangat dalam bekerja dan meminimalkan bentuk pelanggaran.

Bagaimana cara menghadapi resistensi dari dalam KAI sendiri?
Tidak bisa dipungkiri, banyak pihak yang sudah lama menikmati keuntungan dari buruknya manajemen kereta. Resistensi ini hanya datang dari 10 persen seluruh karyawan KAI. Kami terapkan pola reward and punishment secara konsisten. Siapa yang berhasil mendapat penghargaan, siapa yang melanggar mendapat hukuman. Salah satu penghargaan tertinggi kami berikan kepada tiga karyawan PT KAI yang meninggal dalam peristiwa kecelakaan 9 Desember di Bintaro. Nama mereka kami abadikan sebagai nama tempat balai pendidikan di Bekasi, Yogyakarta, dan Bandung. Keluarga mereka juga kami rekrut sebagai karyawan untuk menopang penghidupan berikutnya. Kami menaruh apresiasi setinggi-tingginya atas tanggung jawab mereka dalam bekerja (lalu Jonan menunjukkan video peristiwa naas tersebut, matanya terlihat basah mengenang peristiwa itu).

Lalu, apa hasil yang bisa dilihat secara konkret oleh masyarakat pengguna kereta?
Anda bisa lihat sendiri, 63 stasiun di Jabodetabek bersih, pelayanan penumpang meningkat, dan ada kemudahan layanan pembelian tiket perjalanan kereta. Pengguna bisa membeli tiket 90 hari sebelum keberangkatan di minimarket, agen perjalanan, ataupun secara online. PT KAI berusaha memanjakan dan menjamin semua penumpang jarak jauh dan sedang mendapatkan tempat duduk sesuai dengan kelasnya. Hal ini bagian dari upaya meningkatkan pelayanan kepada penumpang dan menjadikan kereta api sebagai angkutan yang manusiawi.

Pada angkutan KRL tak ada lagi penumpang yang berada di atas atap kereta, ini yang penting, sebab bertahun-tahun sulit ditertibkan. Dulu sepertinya persoalan ini sangat sulit diselesaikan, kenyataannya sekarang bisa. Kini, kereta menjadi tumpuan angkutan orang dengan latar belakang yang beragam, mulai dari pegawai rendahan hingga direksi perusahaan yang bergaji lebih dari dari Rp 50 juta per bulan.

Ini kebanggaan sekaligus tantangan yang tidak mudah. Sebab, standar kepuasan layanan mereka beragam . Tonggak peningkatan layanan terjadi pada tahun 2013. Direksi menerapkan KRL Jabodetabek dalam 1 manajemen. Semua KRL menggunakan AC. Tidak ada lagi kereta ekonomi & pada saat itu mulai berlaku tiket elektronik. Tidak hanya itu, kami juga meresmikan KA Bandara Kuala Namu di Deli Serdang, Sumut. Kami juga mulai memaksimalkan operasional angkutan batu bara di Divre 3 Palembang.

Dampaknya, terjadi peningkatan signifikan angkutan batu bara dari 25.000 ton/hari tahun 2008 menjadi 45.000 ton/hari di tahun 2013. Hal yang sama terjadi pada pertumbuhan angkutan kontainer di Pulau Jawa per minggu. Dari 1.000 Teus/minggu tahun 2008 menjadi 3.500 Teus/minggu di tahun 2013. Di tahun yang sama, KAI juga meresmikan operasional KA Pangrango Bogor-Sukabumi.

Apa dampaknya bagi KAI?
Ada peningkatan jumlah penumpang KRL di Jabodetabek menjadi 600.000 orang/hari. Angka ini jauh lebih banyak bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang 400.000 orang/hari. Angka ini akan terus meningkat seiring dengan penambahan jadwal perjalanan. Target kami ke depan, KRL dapat mengangkut 750.000 orang/hari & tahun 2020 menjadi 1,5 juta orang/hari. Peningkatan ini tentu berimbas pada peningkatan pendapatan perusahaan. Pada tahun 2009 pendapatan PT KAI sebesar Rp 397,241 miliar, tahun 2010 Rp 445,305 miliar, tahun 2011 Rp 491,01 miliar, dan tahun 2012 sebesar Rp 663,662 miliar.

Setelah mencapai itu semua, apa lagi yang Anda inginkan?
Kami ingin meyakinkan pemerintah bahwa moda angkutan kereta itu penting. Sebab daya angkutnya yang besar & jaringannya sudah ada. Payung hukum undang-undang juga sudah mengaturnya. Sampai sekarang masih sulit meyakinkan hal itu kepada pemerintah. Untuk itu mengembangkan angkutan kereta perlu dukungan penuh dari pemerintah, mulai dari penghapusan pelintasan sebidang hingga memperbaiki kualitas rel. Sementara ini biaya operasional PT KAI cukup besar.

Tahun 2013, perbaikan rel PT KAI menghabiskan biaya Rp 1,7 triliun. Bila menambah banyak akses keamanan, diperkirakan tahun depan akan menghabiskan biaya hingga Rp 2,5 triliun. Bila separuh biaya saja ditanggung pemerintah, saya yakin biaya perbaikan lebih ringan & sebagian uang bisa digunakan untuk merevitalisasi kereta menjadi lebih baik lagi.

Sumber : Kompas, 06.01.14 / Kredit Foto : Warta Ekonomi.

[English Free Translation]

In the midst of the complexity of the transportation problems in the country, PT KAI continues to make inroads service improvements. The directors of state enterprises changed the face of the company that originally lethargic to be fresh and exciting. KAI is now a customer service oriented company. Read the interview footage clearly above.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar