Sabtu, 19 September 2015

[KG-258/2015] Jelong-jelong Ke Semarang – 19/09/15

SeMaRaNG: Nyari waktu yang pas, gak mudah. Apalagi kesibukan sehari-hari, gawean numpuk, truz ditambah masih dalam dalam rangka tahap awal implementasi SAP, wuiiih top bingitz deh.

Nyampe Stasiun Tawang Semarang jam 02.00, mampir sejenak ke kantor KALOG BHP Kurir di depan stasiun dan sowan bareng KALOGers yang baru selesai muat barang untuk kereta api Bangunkarta. Setelah itu ngebaso dulu. Gak sempet foto-foto, kecapean Bro’.


Jam 03.00-an masuk hotel dan istirahat. Pagi jam 07.00 sarapan dan bersiap menuju tujuan pertama, kelenteng agung Sam Poo Kong. Liputannya sebagian bisa dilihat disini tapi sebagian lagi (ssst, ada di kamera dan file-nya gede bingits, jadi harus di-resize dulu).


Perjalanan di lanjut ke gedung bersejarah Lawang Sewu dengan harapan bisa menghitung jumlah pintu yang ada, ehhh keburu capek … jadi biasa deh cuma numpang foto doank. Perlu gak gambaran ceritanya seperti apa ? Nih, ada sedikit catatan.

Lawang Sewu merupakan sebuah bangunan kuno peninggalan jaman Belanda yang dibangun pada 1904. Semula gedung ini untuk kantor pusat perusahaan kereta api (trem) penjajah Belanda atau Nederlandsch Indishe Spoorweg Naatschappij (NIS).

Dari namanya cukup serem, lawang sewu ato gedung dengan seribu pintu. Menurut yang pernah mencoba menghitung jumlah pintunya, blon tentu juga ada 1.000 buah pintu tetapi karena saking banyaknya disebutlah “lawang sewu”.

Gedung tiga lantai bergaya art deco (1850-1940) ini karya arsitek Belanda ternama, Prof Jacob F Klinkhamer dan BJ Queendag. Lawang Sewu terletak di sisi timur Tugu Muda Semarang, klo yang hobi jalan-jalan dan backpacker, cukupan deh.


Perjalanan berikutnya, menuju Pagoda Watugong (entah apa yang menginspirasi Wahid dan Hendra, sehingga rada ngotot pengen kesini ?). Maksud hati mau sembahyang dan cuci mata, ehh lagi-lagi lihat bangunannya, kepincut pengen narsis.

Sebelum masuk ke liputan dokumentasi, sepintas dijelasin apa sih keunikan pagoda tsb. Nah, cuplikan foto-fotonya sebagian kita unggah disini (versi HP) karena versi kamera masih blon sempet ngedit he he he. Sabar, suatu hari nanti pasti kita unggah.

Vihara Buddhagaya Watugong adalah sebuah pagoda yang diresmikan pada 2006 lalu dan dinyatakan MURI sebagai pagoda tertinggi di Indonesia. Vihara Buddhagaya Watugong terletak 45 menit dari pusat Kota Semarang.


Vihara ini memiliki banyak bangunan dan berada di area yang luas, termasuk salah satunya patung tertinggi yang akan dibangun di lokasi tersebut (masih dalam rencana). Parkir gak jadi masalah klo mo mampir ke lokasi ini.

Salah satu ikon yang paling terkenal di vihara ini adalah Pagoda Avalokitesvara (Metta Karuna), dimana didalamnya terdapat Buddha Rupang yang besar. Pagoda Avalokitesvara yang memiliki tinggi bangunan setinggi 45 meter dengan 7 tingkat, yang bermakna bahwa seorang pertapa akan mencapai kesucian dalam tingkat ketujuh.

Dan perjalanan penutup hari pertama Sabtu 19/09, berakhir di Stasiun Ambarawa, sekaligus menyerahkan seragam PT KALOG sejak afiliasi tsb berdiri. Selanjutnya diberi tawaran menginap 1 (satu) malam di rumah Kepala Stasiun (KS) Ambarawa, Tri Prastiyo yang baik hati dan gak sombong he he he. Piiiis.

Malam hari, menyempatkan diri bertandang ke rumah tumenggungan setempat yang juga sesepuh Komunitas Ambarawa Berjaya. Terima kasih semua perjalanan berjalan lancar dan aman.


Liputan singkat suasana di rumah KS Ambarawa, silahkan simak edisi tgl 23/09/15 di blog lain : www.see-ram.blogspot.com. Sedangkan catatan hari ke-2 tgl 20/09 segera disodorkan dalam beberapa hari ini. Cheers.

Sumber : KALOG / Foto : RAM – Hendra – Totok – Wahid.

[English Free Translation]
During 2 (two) days, we travel to Central Java and focused visit in Semarang and Ambarawa areas. Please see the travel records together with KALOGers. Enjoy.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar