Sabtu, 02 Mei 2015

[KU-120/2015] Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangra

Rwaneka datu winuwus wara buda wiswa,
Bhineki rakwa ringapan kena parwa nosen,
Mangkan jinatwa, kalawan siwatatwa tunggal,
Bhineka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa

Sumber-sumber ajaran agama konon berbeda-beda,
Tapi bicara mengenai Sang Kuasa, kapankah Dia dapat dibagi-bagi
Karena baik ajaran siwa-maupun-buda adalah tunggal
Berbeda-beda tetapi tetap satu, Dharma tak dapat dibagi-bagi

[Sutasoma]

Jaman dahulu, ratusan tahun yang lalu, perang besar antara agama buda dan agama hindu (siwa) nyaris terjadi. Hal itu dapat dicegah, karena ada dialog parapemuka kedua agama. 

Dialog itu menghasilkan bhisama atau fatwa yang mengikat kedua belah pihak. Bhisama tersebut ternyata menjaga tanah Nusantara, selama ratusan tahun kemudian. Tercantum dalam kitab Sutasoma – Bhineka Tunggal Ika,Tan Hana Dharma Mangrwa.

Era kemerdekaan, Bung Karno, Sang Proklamator, menyatakan diri sebagai ”penggali” bukan pencipta Pancasila. Karena Pancasila sudah menjadi pedoman atau falsafah hidup warga Nusantara, sejak ribuan tahun yang silam.

Bhineka Tunggal Ika, sudah menjadi bhisama yang mengikat bagi kerajaan-kerajaan di Tanah Nusantara, jauh sebelum Indonesia merdeka. Konflik-konflik agama, bukannya baru terjadi sekarang ini, melainkan telah pernah terjadi berkali-kali dalam kurun waktu ratusan tahun.

Bangsa kita telah memiliki pengalaman dalam menyelesaikan konflik-konflik yang terkait dengan persatuan dan kesatuan. Sangat disayangkan, Sang Penjajah, telah mengobrak-abrik kekayaan intelektual bangsa, untuk melanggengkan kesempatannya menghisap kekayaan Nusantara dengan semena-mena.

Renungkanlah, kenapa penjajahan terjadi selama berabad-abad, apakah Nusantara terlalu lemah untuk melawan itu ?

—oOo—

Kutukan – Sirna Hilang Kertaning Bumi

Orang tua-tua berkata, candrasengkala yang menandakan jatuhnya majapahit bukanlah dibuat begitu saja. Itu adalah kutukan – Sirna Hilang Kertaning Bumi – hilang lenyap kesejahteraan bumi nusantara. Karena apa ?

Karena raja baru, dengan gelar Panatagama, penata atau pengatur agama, melupakan bhisama atau fatwa – Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa. Raja berkolaborasi dengan ulama-ulama besar, membangun negara berlandaskan satu agama. Celakanya, kerajaan diperluas sambil melakukan penyeragaman kepercayaan yang baru itu.

Maraknya penyaragaman, karena ulama yang termasuk dalam sub system sosiokultural yang mestinya memiliki tugas independen untuk mengayomi seluruh masyarakat, berkolusi dengan sub sistem politik pada saat itu.

Untuk mempermudah proses infiltrasi budaya, maka dilakukan perubahan-perubahan pakem-pakem pewayangan misalnya ramayana dan bharatayudha. Senjata Kalimasada sang Yudistira, di gothak gathik gathuk menjadi Kalimah Syahadat.

Ada ulama yang jelas-jelas menjiplak cerita dewa ruci, menjadi suluk linglung yang diclaim sebagai karyanya, dan mengganti bima seolah dirinya. Suatu cara infiltrasi budaya yang cerdik namun tetap saja licik.

Penumpasan dilakukan secara kasat mata, pergantian agama bukan karena suka rela dan dari hati yang terdalam, tetapi timbul karena alasan ekonomi, ketakutan politis dan kekejaman apparat negara yang berkolaborasi dengan ulama bengis tanpa ampun.

Ada banyak ulama-ulama yang tak sejalan, seperti Siti Jenar, atas nama agama, disingkirkan bahkan dibunuh secara fisik. Dibuat mitos bahwa, ketika jasad Syekh Siti Jenar ditanam, berubah menjadi anjing buduk, suatu pembunuhan jasad dilanjutkan dengan pembunuhan karakter yang membuat miris logika kita.

Itulah ulah para ulama keblinger kekuasaan, tega memalsukan sejarah, plagiator karya orang lain, meramunya untuk kepentingan pribadi dan golongan. Rekayasa budaya, agama dan politik, membuat kemarahan yang amat sangat di bathin warga nusantara, akan tetapi telah kehilangan kata-kata.

Akhirnya muncul kutukan Sirna Hilang Kertaning Bumi yang berarti hilang musnah kesejahteraan di bumi Nusantara. Dan sejarah mengatakan, sejak itu, bangsa kita jadi bangsa yang dinistakan, dijajah, dihisap dari bangsa lain karena para petinggi Negara bekerjasama dengan para ulama melupakan bhisama/fatwa Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa.

Eka Prasetya Pancakarsa

Tahun 1978, 500 tahun setelah terjadinya kutukan Sirna Hilang Kertaning Bumi, muncul Eka Prasetya Pancakarsa yang diinisiasi dan dicanangkan oleh Presiden Suharto.

Pancasila kembali menjadi landasan dan falsafah berbangsa. Batas-batas negara ditetapkan, zone ekonomi eksklusif dipatok. Sang Ksatria, pada saat itu, benar-benar menjalankan tugas negara. Kita sempat menjadi Bangsa yang terhormat beberapa saat.

Adanya reformasi menyebabkan Pancasila dipinggirkan kembali, karena salah kaprah, memandang itu sebagai produk Orde Baru yang harus disingkirkan. Tidak ada kesinambungan pemikiran, dari para oportunis-oportunis politik yang suka mengail di air keruh, memanfaatkan segala resources secara membabi buta, termasuk menunggangi agama.

Keinginan-keinginan penyeragaman kembali lagi timbul, nafsu-nafsu menggunakan agama untuk meraih posisi kekuasaan menjadi kian subur. Lalu terbukti, kita menjadi hancur lagi.
Nah … tidak kah kau lihat … hei Warga Nusantara … ketika kita lupakan Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa … ketika slogan itu hanya menjadi penghias dinding, dan tidak ada dalam kalbu sang pemimpin, maka kerusakan pasti akan terjadi !

Sudah beberapa kali kita mengadakan pemilihan umum, baik yang langsung, maupun berdasarkan perwakilan, partai islam tak pernah menang !!! Karena ada goresan keperihan di bathin warga Nusantara, akibat campur aduk agama dengan negara.Indonesia harus kembali lagi pada penerapan sejati, Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa, tanah Nusantara akan tetap menderita.

Dengan penipuan-penipuan, cara-cara halus meraih kekuasaan melalui agama, Nusantara akan tetap menderita.

Jati Diri Bangsa

Di era globalisasi ini, ketika serangan budaya luar makin menghebat, ketika perekonomian carut marut, subsistem politik kita buyar, maka salah satu jalan agar kita bisa berdiri tegak adalah dengan membangun kembali Jati Diri Bangsa.

Pedoman-pedoman rukun, toleransi dan sikan hormat-menghormati, harus diberikan tempat seluas-luasnya. Dari pada diberikan pelajaran agama, yang jelas menyebabkan terpisahnya warga bangsa sejak duduk di bangku SD, kenapa kita tak berpaling pada pelajaran Budhi Pekerti, yang pasti ada di setiap agama.

Daripada beragama dimulut saja, tapi korupsi merajela, dan kerusuhan tak henti melanda, kenapa alternatif itu tak difikirkan dengan seksama. Bagi golongan tertentu ini merupakan suatu kerugian, tapi sudah saatnya kita memikirkan bangsa, bukan golongan agama.

Profesi-profesi utama harus kembali ke swadharma atau kewajibannya masing-masing.
Brahmana atau ulama kembali menjadi pengemong seluruh umat tanpa harus terkait dengan partai. Ksatria – politikus benar-benar mengkonsentrasikan dirinya untuk membuat aturan-aturan negara.

Wesya – pengelola perekonomian tekun dengan usaha-usaha inovasi dan seluruh masyarakat mampu tabah menghadapi segala cobaan yang ada. Jangan sampai dimanfaatkan oleh oknum-oknum pencari keuntungan sesaat. Jangan sampai buruh digerakkan oleh serikat-serikat yang dipimpin oleh oknum-oknum yang jelas-jelas mendapatkan dana luar biasa besar dari negara luar.

Keserakahannya digunakan oleh musah-musuh negara untuk mengacaukan bangsa, dan mengambil untung dari kekacauan yang terjadi pada bangsa kita.

Cara-cara untuk bangkit kembali sebagai bangsa telah tercantum di Kitab Negara Kertagama dan kitab-kitab lain Nusantara, kenapa kita tak berpaling ke padanya… Karena kalau kita mengacu pada bangsa lain … apalagi mengacu pada bangsa-bangsa timur tengah … mereka sendiri sedang carut marut .. tak bisa dijadikan panutan.

Lamun sira paksa nulad, tuladhaning kangjeng Nabi, O, ngger kadohan panjangkah, wateke tan betah kaki, rehne ta sira tanah jawi, sathitik bae wus cukup, aja guru aleman, nelad kas ngepleki pekih, lamun pengkuh pangangkah yekti karahmat.

Jika kau memaksakan diri untuk meniru sikap keteladanan Nabi, o, terlampau jauh anakku. Dari gelagatmu (kau) takkan mampu karena kau lahir sebagai orang jawa. Karenanya, tak perlu berlebihan. Janganlah mencari pujian (dengan) meniru atau menyerupai ulama ahli. Asalkan engkau tekun meraih cita-cita tentu anugrah akan tiba.

[Serat Wedhatama, Sinom]

Demikian sodara-sodaraku, mudah-mudahan kisah pengantar tidur di atas, menjadi
perenungan walau sepintas. Siapa tahu, bisa dijadikan pedoman kalau tanda Gunung
Merapi Meletus, Laharnya Berbau Amis, benar-benar ada.

Oleh : Ki Jero Martani - Parang Kusumo, 08.04.2006.

[English Free Translation]

A critical opinion concerning the State Emblem in the spirit of Bhinneka Tunggal Ika, unity in diversity, though different fixed one. It is desirable but in fact actually different. The article to enrich the discourse of all Readers.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar