Minggu, 03 Mei 2015

[KG-121/2015] Stasiun KA Tanjung Priuk, Riwayatmu Kini & Dulu

JaKaRTa: Wajah per-stasiun-an di Jakarta tengah ditata oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) agar kedepannya menjadi lebih baik dengan memperhatikan pertimbangan bisnis dan juga arah kebijakan pemerintah dalam beberapa tahun ke depan. Untuk bilang jangka panjang, masih blon pe-de hi hi hi.

Yang kentara saat ini, semua stasiun di Jabodetabek bisa disinggahi commuter line, itu pasti, kecuali Stasiun Gambir. Peruntukan Gambir memang untuk kereta api (KA) eksekutif jarak jauh ato luar kota. Terus, Stasiun Tanjung Priuk, buat apa dunk ?

Sebelumnya sempat mangkrak dan nyaris gak bersuara, 1-2 tahun lalu diaktifkan dengan memasukkan 4 (empat) KA seperti Bogowonto, Bangunkarta tetapi sejak kuartal 3 tahun 2014, di-stop lagi.

Pasalnya, perubahan peruntukan. Rencana jangka panjang, Stasiun Tanjung Priuk yang ada dalam koordinasi Daop 1, akan dikembangkan menjadi stasiun angkutan barang dan mengantisipasi lonjakan petikemas antar-daerah yang diprediksi bakal melonjak.

Mirip seperti halnya Stasiun Kalimas di Daop 8 SB yang akhirnya difokuskan menjadi terminal barang ato tepatnya stasiun angkutan barang. Tadinya di Surabaya ada beberapa stasiun yang melayani angkutan barang juga, semisal Surabaya Pasar Turi dan Benteng. Kini tidak lagi.

Sambil menunggu aktifasi stasiun agar bisa mengakomodir commuter line, yuuuk kita lihat-lihat selayang pandang foto-foto stasiun Tanjung Priuk, termasuk lorong dibawah tanah (mohon maaf, belum bisa dilihat oleh umum karena masih belum dipugar). Hanya bagian atas yang sempat diabadikan dengan baik.

Padahal kalo sempat denger dari temen-temen yang hafal seluk beluk sejarah, lorong dibawah Stasiun KA Tanjung Priuk itu ada yang tersambung ke Istana Negara, ke Beos serta Pelabuhan Tanjung Priok / Ancol situ.

Lorong itu dulunya, dipergunakan oleh pihak VOC untuk menggelontorkan pasok rempah-rempah dan segala macam komoditi negeri ini, via kapal yang sandar di Ancol itu. Sepintas, gak ada kegiatan macam-macam karena aktifitas nyata ada di bawah geladak dan nyaris gak terlihat dari atas.

Seperti teknik kamuflase ato mengalihkan perhatian. Masyarakat umum hanya melihat ada kapal sandar, titik. Strategi wong Londo lain lagi. Gimana caranya, orang lain gak tahu, sementara pemerintah Hindia Belanda melakukan manuver gila dengan menguras kekayaan negeri tercinta.

Itulah sedikit ulasan tentang fungsi lorong-lorong bawah tanah tadi. Lain kali, kita mo tanya kepada para nara-sumber yang lebih paham tentang sejarah Stasiun Tanjung Priuk supaya lebih maknyuuus.

Ngomong-ngomong, nama Tanjung Priuk itu asalnya darimana ya ? (ssst, ada juga yang menulis Tanjung Priok). Ini cuplikan dari Wikipedia. Kata Tanjung Priok berasal dari kata tanjung yang artinya daratan yang menjorok ke laut, dan priok (periuk) yaitu semacam panci masak tanah liat yang merupakan komoditas perdagangan sejak zaman prasejarah.


Anggapan nama Tanjung Priok berasal dari tokoh penyebar Islam Mbah Priuk (Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad Husain) menurut pendapat budayawan Betawi Ridwan Saidi dan sejarawan Alwi Shahab adalah salah, karena kawasan ini sudah bernama Tanjung Priok jauh sebelum kedatangan Mbah Priuk pada tahun 1756.

Komentar akhir setelah melihat stasiun Tanjung Priuk, keren abiiiiiz !


Sumber : Langsung / Foto : RAM / .Kredit Foto : warisanindonesia.com, rovicky.wordpress.com

[English Free Translation]
Some time ago, we stopped to Tanjung Priuk station and take the pictures to be immortalized. Romantic shades and elegant buildings still apparent today. Take a look the photo’s above.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar