Selasa, 23 September 2014

[KU-262/2014] Wawancara Khusus dengan Dirut PT KAI, Ignasius Jonan. “Jabatan Publik Itu Amanah.”

JAKARTA: Fotonya sedang tidur kelelahan di salah satu kursi gerbong KA ternyata diposting oleh Agus Pambagyo, seorang pengamat kebijakan publik. Ada yang menyebut, itu bagian dari tim pencitraan di media massa, termasuk ke media sosial. Sehingga kemudian, menjadi ramai dan dibicarakan banyak orang.


Seakan tak peduli dengan imej ‘dirut’ yang disandangnya, mungkin saat itu yang dia perlukan hanya istirahat, karena kelelahan setelah berhari-hari memantau Posko Angkutan Lebaran. Dicibir sebagai “agenda setting” dan disebut hanya pencitraan. Namun, ternyata dari sekian orang yang mengkritisi, justru lebih banyak lagi orang yang memberi simpati.


Banyak terobosan yang telah dilakukan oleh lelaki kelahiran Singapura, 21 Juni 1963 ini. Demikian cekatan, kemauan dan semangat tinggi, ia tak kenal lelah untuk memperbaiki kinerja keuangan, manajemen, dan terutama pada pelayanan kepada pengguna jasa KA. Membawa KA menjadi moda transportasi umum pilihan masyarakat.


Dengan gaya leadership-nya yang tegas, lugas, gesit, dan reformis, berbagai peningkatan pun kini tampak di wajah perkeretaapian dalam negeri. Ia dinilai sukses menolak perspektif buruk yang sebelumnya ditujukan terhadap stasiun, toilet, dan gerbong kereta.


Wajar, jika Dirut ke-22 KAI ini masuk list dalam pemerintahan transisi SBY-Boediono ke Jokowi-JK. Disebut-sebut diusulkan sebagai menteri perhubungan versi polling Relawan Jokowi Center dan Radio Jokowi. Berikut rangkuman petikan wawancara Majalah Eksekutif dengan Ignasius Jonan:


Pelayanan prima bahkan melebihi ekspektasi pelanggan, Anda terus upayakan?
Bagi saya, pelayanan publik adalah pengabdian. Hal itu selalu saya tanamkan kepada seluruh pegawai PT KAI, dari pucuk pimpinan sampai ke akr rumput. Saya tekankan, bahwa penumpanglah yang “memberi makan” pegawai PT KAI.


Anda dinilai berhasil mengubah mindset pegawai KAI dari product oriented menjadi customer oriented?
Sebelumnya, karyawan PT KAI sangat acuh tak acuh dalam melayani penumpang. Belum ada semangat customer oriented, karena merasa tidak punya saingan. Kesannya, orang mau naik kereta syukur, enggak naik Alhamdulillah. Saya ajak seluruh tim untuk sadar akan kompetisi. Dengan menyadari kompetisi ini, harapannya KAI bisa secara kontinu melakukan perbaikan dan inovasi agar tidak kalah dengan pesaingnya. Jangan pernah merasa tidak memiliki kompetitor.


Cara membuat Kereta Commuter Line, sebagai pelayanan publik, harus dibuat satu kelas cukup efektif, ya?
Tak ada lagi kelas ekonomi, ekonomi AC, ekspres, dan lainnya. Di seluruh dunia seperti itu. Semua juga pakai AC. Dengan begitu, penumpang di atap akan berkurang. Karena, kereta yang pakai AC itu jendelanya tidak bisa dibuka. Jadi, orang tidak bisa naik dari jendela ke atap gerbong.


Dalam berupaya keras untuk melakukan berbagai perbaikan, Anda mengalami keterbatasan, terutama masalah keuangan, apa benar?
Intinya, safety nomor satu. Ketepatan waktu nomor dua. Pelayanan nomor tiga. Kami bisa sampai di sini. Ada lagi yang keempat sebenarnya. Kenyamanan. Gerbong tuanya diganti. Kami mau masuk ke tahap ini.


Mimpi Anda yang belum terwujud?
Kereta api itu jadi tulang punggung transportasi di tempat yang penduduknya padat, terutama Jawa. Pulau Jawa ini, di luar Madura, penduduknya sekitar 40-50 juta jiwa. Kalau tidak ada kereta api, tidak mungkin jalan raya itu mampu menahan beban transportasi yang padat. Kami juga sudah banyak membuka jalur yang dulunya mati. Contoh yang paling dekat, Bogor-Sukabumi. Insya Allah, pertengahan atau akhir Januari, diteruskan Sukabumi-Cianjur. Awal Januari juga mau buka Semarang-Purwokerto. Dulu tidak ada, sekarang ada.


Anda memperkenalkan sistem meritokrasi. Tak ada lagi urut kacang?
Bekerja profesional menjadi keseharian pegawai PT KAI. Saya tak segan memensiunkan dini karyawan pemalas. Kemudian kompensasi pegawai dinaikkan secara bertahap. Bekerja di PT KAI adalah pilihan hidup. Kalau tidak bisa bekerja dengan baik, bisa mencari tempat lain.


Benarkah Anda puluhan kali memecat anak buah setingkat kepala regional ataupun kepala stasiun?
Kepala regional itu mengantongi gaji sekitar Rp 30 juta sebulan. Dengan gaji sebesar itu, maka tidak boleh ada kesalahan dalam memberikan pelayanan. Begitu juga dengan petugas penjaga perlintasan di Jakarta, digaji 3 sampai 5 juta Rupiah sebulan. Kepala stasiun sekitar Rp20 juta sebulan. Keadilan coba saya tegakkan. Misalnya, gaji komandan di lapangan harus lebih tinggi daripada komandan di kantor.


Benarkah Anda akan menaikkan harga tiket mengejar BEP?
Lebih tepatnya menyesuaikan harga. Karena pelayanan publik itu, mau rapi atau tidak, itu ada biayanya. BUMN itu tidak boleh rugi, dengan tata kelola yang bersih dan efisien. Keuntungan bukan target, tapi tak boleh rugi. Kalau rugi, namanya BUMN anak kecil.


Itu yang membuat Anda sebagai Direktur Utama PT KAI untuk periode kedua, apakah karena keberhasilan bapak dalam membenahi PT KAI serta mampu menghasilkan untung Rp 400 miliar/ tahun?
Sebenarnya, bukan saya yang membenahi. Yang membenahi itu hampir 28 ribu rekan-rekan saya, pegawai yang berstatus karyawan tetap, termasuk anak perusahaan. Ditambah 6-7 ribu pegawai tidak tetap dan karyawan kontrak serta outsourcing. Saya ini Cuma mandor. Saya juga tidak menciptakan penemuan baru.


Ok, bagaimana jika Anda ditelepon Jokowi, untuk menjadi Menteri Perhubungan?
Saya orangnya masa bodoh. Jabatan public itu amanah, dan saya percaya, jabatan public itu tak boleh menjadi cita-cita. Harus menjadi tanggung jawab. Kalau juara dunia badminton, jadi cita-cita boleh. Juara dunia atau semisal menjadi Putri Indonesia itu boleh menjadi cita-cita. Kalau cita-cita menjadi Menteri, itu keliru. Dirut BUMN tak boleh, kalau swasta boleh.

Sumber : Majalah Eksekutif, edisi September 2014.

[English Free Translation]

The 22nd Managing Director of PT Kereta Api Indonesia (Persero)  enter into the list in the transitional government of SBY-Boediono to Jokowi-JK. Touted as the transport minister as proposed in polling version Jokowi Volunteer Center and Radio Jokowi. Please read more above summary of an interview with Ignasius Jonan with "Eksekutif" Magazine.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar