Senin, 01 September 2014

[KA-240/2014] Jonan : Dua Ribu Hari !

JAKARTA: Sampai tadi sore, seorang peserta seminar Perbanas menanyakan kepada saya mengapa saya menerima penugasan di KAI. Penanya mengatakan bahwa dia sangat khawatir bahwa saya akan gagal total membenahi KAI.

Mendengar pertanyaan yang sudah ditanyakan oleh puluhan bahkan mungkin hampir seratus orang sejak saya berdinas di KAI, saya merasa geli dan geli saja. 

Penanya rupanya memiliki persepsi yang sama dengan kebanyakan orang terhadap pemahaman tentang operator perkeretaapian ini. Bagi saya, KAI adalah perusahaan jasa transportasi. Sekali lagi, KAI adalah perusahaan JASA.

Lembaga keuangan juga perusahaan jasa seperti KAI, hanya produk yang ditawarkan kepada masyarakat berbeda, namun substansinya sama yaitu perusahaan jasa (service). Jika saya pernah berkarir di lembaga keuangan dan bertugas sebagai Direktur Utama BUMN Lembaga Keuangan PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero) diusia 37 tahun, tentunya pengalaman batin saya akan membantu saya meningkatkan kinerja KAI. 

Jiwa perusahaan jasa adalah pelayanan dalam arti yang seluas luasnya, yaitu fokus kepada Pelanggan. Fokus kepada Pelanggan itu termasuk Keselamatan (safety), Ketepatan Waktu(punctuality),  Pelayanan (hospitality) dan Kenyamanan (comfort).

Selama 2.000 hari lebih saya berdinas di KAI, keempat pilar  diatas adalah pilar yang tidak bisa ditawar karena alasan apapun, termasuk alasan gempa bumi ataupun kematian kita sekalipun. Keempat pilar itu adalah harga mati !

Tanpa terasa, saya sudah bertugas sebagai "mandor" KAI lebih dari dua ribu hari dengan ribuan tantangan dan godaan, serta perbaikan dan perubahan kultur kerja. Tidak ada satupun mandor di  KAI yang berdinas lebih lama dari masa tugas saya sampai saat ini, dua ribu hari dan masih akan terus menjadi mandor sampai suratan tangan menentukan lain.

Dua ribu hari telah menghasikan sekurangnya ratusan perbaikan kecil dan besar, puluhan kultur kerja baru yang diterapkan, lebih dari seratus penghargaan diterima KAI maupun belasan insan KAI, dan akan masih banyak lagi.

Lalu apa yang akan terus dilakukan?

a. Perbaikan sarana yang tiada henti walaupun para pemeriksa SPI kadang tidak paham sarana dan menghasilkan pemeriksaan yang tidak bisa untuk perbaikan atau kurang sesuai kenyataan.

b. Perbaikan prasarana  akan terus menerus dan jangan main2 ya. Meskipun beberapa kali proyek prasarana yang dibiayai APBN menjadi kurang efektif.

c. Peningkatan pelayanan termasuk cuci kereta, customer service, call center, restorasi KA, stasiun yang aman dan bersih, personil yang memiliki disiplin tinggi dan integritas yang tanpa cela, dlsb. Patut diingat,  mutasi adalah kewajiban kita semua karena kita telah menandatangani pernyataan untuk siap ditempatkan di mana saja sesuai kebutuhan KAI. Jika anda menghalangi mutasi, maka saya akan berprasangka bahwa anda punya kepentingan pribadi yang kurang sehat.

d. Efisiensi yang terus menerus dan kreativitas yang positif seperti peremajaan yang baik dan efisien akan menjadi arah kita di tahun tahun mendatang. Saya berpesan jangan menjadi pahlawan kesiangan dengan cari muka dan berusaha seolah-olah berguna. Yang tidak berguna silahkan pensiun dini saja.

e. Kapasitas angkut harus mencapai 600 juta penumpang dan 60 juta ton per tahun di tahun 2020.

f. Aset ?  Wah ini yang seru sampai KPK berkenan menyelidiki potensi aset yang terlupakan atau sengaja dilupakan. 

g. Kegiatan komersial yang pro-aktif dan berorientasi bisnis, bukan orientasi administrasi.

h. Yang terakhir ini yang tidak mudah: KONSISTENSI. Ini PR besar bagi kita semua atau KAI akan mundur kembali pada suatu hari. 

Saya mengingatkan jangan pernah melakukan kecurangan dan jangan pernah tidak peduli karena itu merugikan diri sendiri dan/atau orang lain.

Selamat bekerja dan bekerja, jangan cuma omdo !

Sumber : Milis Internal PT KAI – Tulisan : Ignasius Jonan – Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero).

[English Free Translation]
A routine notes submitted by the President Director of PT Kereta Api Indonesia (Persero) Ignasius Jonan, to motivate its employees to remain optimistic and be able to promote the railway industry in this beloved country.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar