Rabu, 22 Juli 2015

[KU-199/2015] Kurniadi Atmosasmito, Otak di Balik Turnaround Keuangan PT KAI

JAKARTA: Nama Kurniadi Atmosasmito tak bisa dilepaskan dari sukses turnaround PT KAI. Bersama para seniornya, ia merupakan tokoh yang membantu PT KAI menemukan masa depan yang kembali cerah setelah bertahun-tahun dirundung awan gelap. Sebagaimana tugasnya, Kurniadi fokus menjaga keuangan agar KAI bisa untung dan tumbuh,

“Sebelum masuk, pada 2008, KAI rugi Rp 83 M. Selama 65 tahun rugi terus atau kalau untung, tak pernah signifikan. Paling labanya hanya Rp 5-6 M. Begitu saja terus. Sejak kami masuk, terus kami benahi sehingga untung,” katanya. Tahun 2014, keuntungan bersih sudah signifikan: Rp 943 M.

“Tahun ini target kami gila-gilaan, net profit Rp 1,5 T, hampir 2 kali lipat,” ungkapnya. Dalam 3 tahun terakhir, setiap tahun rata-rata bisnis KA bisa tumbuh 19%. Salah satu langkah besarnya: strategi investasi kereta.

Tahun 2008, ketika Kurniadi dkk masuk, KAI mengalami penurunan aset. Perseroan tinggal memiliki 352 loko, sedangkan wagon (KA barang) hanya 3.500 unit. Artinya, kemampuan perusahaan mendapatkan revenue semakin turun, sedangkan kewajiban bertambah.

Karena itu, diputuskan untuk melakukan investasi. Saat ini, jumlah lokomotif KAI sudah bertambah menjadi 454 unit & wagon menjadi 6.300 unit. Pertumbuhan yang signifikan. Tentu saja, prosesnya tak semudah menguntai kalimat. Terutama, perlu mengubah pola pikir awak KAI.

Saat awal bertugas, ia dan tim juga membuat keputusan besar untuk menaikkan gaji karyawan. “Di saat awal ada pertanyaan besar: kami nggak ada uang, tetapi ingin menaikkan gaji karyawan. Pilihannya, karyawan dipaksa kerja keras dulu agar revenue naik atau gaji mereka dinaikkan dulu baru disuruh kerja keras?” katanya. Ini seperti sindrom mana yang lebih dulu: telur atau ayam.

“Akhirnya, kami ambil kesimpulan: gaji karyawan dinaikkan dulu secara bertahap untuk mengangkat semangat kerja mereka,” katanya. Uang untuk menaikkan gaji karyawan diperoleh dari berbagai efisiensi.

“Contohnya, sebelumnya kami beli sesuatu melalui calo sehingga harga jauh lebih mahal, maka saya bilang, kita harus beli langsung ke pabriknya. Dari itu, kami banyak sekali memperoleh uang penghematan dan itu bisa untuk menaikkan gaji karyawan,” ujarnya.

Sejak menjadi Dirkeu PT KAI, Kurniadi sudah melakukan banyak hal. Diantaranya, membangun sistem akuntansi & transaksi pembayaran dengan SAP, menjalankan keuangan korporasi, membenahi capital budgeting, serta mengembangkan strategi pendanaan megaproyek dengan bank dan memperbaiki aspek treasury perusahaan.

Salah satu pencapaiannya, KAI memperoleh kredit investasi untuk pembiayaan capex dengan status direct loan dari Bank Ekspor Impor Amerika Serikat sebesar US$94 M di tahun 2014.

“Ini merupakan bagian yang penting karena ini menyangkut nama KAI. Ini adalah pinjaman pertama KAI dari US Ex-Im Bank tanpa jaminan pemerintah. KAI merupakan BUMN pertama yang memperoleh direct loan dari US Ex-Im Bank tanpa garansi pemerintah,” kata Kurniadi bangga.

Kurniadi bercita-cita PT KAI bisa tumbuh semakin kuat. Laba bersih diharapkan tumbuh berkelanjutan dari Rp 1,5 T di 2015 menjadi Rp 2,5 T pada 2019. Aset perusahaan meningkat berkelanjutan dari Rp 20 T di 2015 menjadi Rp 40 T pada 2019.

Sebuah ambisi besar yang tentunya layak didukung para pemangku kepentingannya mengingat perusahaan ini punya dampak besar bagi transportasi massal negeri ini.

Sumber : Majalah "SWA", edisi 30 Juni-8 Juli 2015.

Catatan,
Rujukan lain tentang profil Direktur Keuangan PT KAI, silahkan baca : [KU-144/2015] Kisah di Gerbong Duit KAI. Profil Mengenai Direktur Keuangan PT KAI, Kurniadi Atmosasmito – edisi 26 Mei 2015.

[English Free Translation]
Kurniadi Atmosasmito’s name can not be separated from the successful turnaround of PT Kereta Api Indonesia (Persero) or PT KAI. Together with their seniors, he is a figure who helped PT KAI find the bright future after so many years overshadowed by dark clouds. As his duties, Kurniadi focus on maintaining company’s financial which can profit and continue to grow in the coming years.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar