Jumat, 27 Juni 2014

[KU-175/2014] Membangun Rel Ganda Kereta Api di Seluruh Negeri.


Oleh : Darmaningtyas (Ketua Bidang Advokasi MTI).

Akibat pembangunan infrastruktur yang terlalu bertumpu pada jalan raya di Jawa, maka transportasi antara wilayah kepulauan menjadi terabaikan sehingga angkutan barang pun jadi mahal. Dampaknya, kesenjangan harga barang-barang antara Jawa dan luar Jawa tidak terhindarkan.

Saat ini jaringan rel ganda KA baru terbangun di Jawa, antara Jakarta-Surabaya lintar utara sepanjang 727 km. Pada 2014 ini akan dibangun jalur rel ganda lintas selatan. Pembangunan jalur rel ganda lintas utara dan selatan akan mengurangi beban jalan dalam distribusi barang yang pada saat ini mencapai 90% lebih.

Jalur rel ganda lintas utara akan meningkatkan kapasitas lintas jalur KA dari 84/hari menjadi 200 KA/hari. Peningkatan kapasitas lintas ini akan lebih optimal bila diikuti dengan pembangunan double-double track Manggarai-Cikarang yang dapat memisahkan perlintasan KA perkotaan dan KA antar kota.

Secara matematis, keberadaan jalur rel ganda lintas utara dapat meningkatkan kapasitas angkut barang melalui KA dari 5000 teus per pekan menjadi 10000 – 15000 teus per pekan. Dan diharapkan biaya logistik dapat diturunkan dari 27% menjadi 17%. Sampai sekarang angkutan logistik kita tidak kompetitif dibanding negara lain yang rata-rata maksimal hanya 10%.

Menurut Dirjenka Hermanto Dwiatmoko, pengoperasian jalur rel ganda KA lintas utara dapat menghemat konsumsi BBM Rp 57,8 miliar setahun. Penghematan itu terjadi karena waktu tempuh lebih cepat dan tidak perlu berhenti lagi saat persilangan.

Bercermin dari pembangunan rel ganda lintas utara Jawa kiranya tepat bila di seluruh pulau besar di Indonesia dibangun jaringan rel ganda sehingga dapat menopang pengembangan industri pangan yang dilakukan swasta dan distribusi barang akan lebih cepat, serta kesenjangan dalam menikmati hasil pembangunan bisa teratasi.

Sumber : Suara Pembaruan, 16.06.14.

[English  Free Translation]
Due to infrastructure development which rely too much on highways in Java, as a result of that, transport between the islands became neglected and the transport of goods too expensive. The impact, the gap between the prices in Java and outside is inevitable.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar