Sabtu, 05 November 2016

[KU-303/2016] Jalur Kopi ''Bergerigi'' Di Lereng Telomoyo

SEMARANG : Jalur KA berpenampang gerigi, antara Stasiun Jambu dan Stasiun Bedono, di Kab. Semarang, Jawa Tengah, bukan cuma langka karena hanya dimiliki 3 negara di dunia. Rel itu juga jadi saksi jejak sejarah perdagangan hasil bumi di perbukitan Kedu utara.

Kini, jalur itu dihidupkan lagi guna memantik wisata sekaligus romansa. Manajer Museum PT KAI Eko Sri Mulyanto mengatakan awalnya, jejak sejarah jalur kereta Ambarawa-Bedono tak lepas dari aktivitas militer kolonial.

Stasiun Ambarawa merupakan stasiun pangkalan transportasi serdadu Belanda ke sejumlah pos penjagaan, seperti Bedono, Tuntang, dan Secang. Dalam buku Selayang Pandang Sejarah Perkeretaapian Indonesia, lokomotif beroda gerigi di ruas Ambarawa-Bedono didatangkan dari pabrikan Esslingen, Jerman.

Dengan lokomotif ini, tingkat kecuraman 65% bisa dilalui meski kecepatan terbatas 10 km/jam. Kayu jati dipakai untuk memanaskan ketel air hingga menghasilkan uap. Saat ini masih tersisa 3 (tiga) lokomotif jenis B25 di Ambarawa. Selain B2502 dan B2503, seri B2501 jadi monumen statis di Monumen Palagan Ambarawa.

Sumber : Kompas, 05.11.16 / Foto : Pelosok Nusantara.

[English Free Translation]
Railway lines patterned serration, between Jambu Station and Bedono Station, in the district. Semarang, Central Java, not just rare because only owned by three countries in the world. The rail also witness the history of commercial crops in the hills of northern Kedu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar