Senin, 26 Oktober 2015

[KG-291/2015] China : Seeing Is Believing (part 2/2)

BeiJiNG: Perjalanan ke Tiongkok dimulai tgl 22/10 dan kembali ke Indonesia tgl 26/10 pagi waktu setempat (waktu RRCina). Selisih waktu antara Jakarta dan Beijing / Shanghai 1 (satu) jam saja. Program Studi Banding (PSB) ini menggabungkan aktifitas pekerjaan (pengalaman berkereta api), edukasi dan jelong-jelong alias jalan-jalan.

Berikut ini catatan perjalanan RAM selama mengikuti PSB di Tiongkok untuk melihat-lihat dan merasakan kondisi nyata di Negeri Panda. Peserta dibagi dalam 6 (enam) kelompok dan bertindak sebagai kapten : Wiwiek Widayanti (EVP Daop 8 SB). Selamat menyimak.

Hari pertama, langsung menuju Tembok Besar Cina (The Great Wall) - tentunya setelah sarapan, khan baru nyampe pagi harinya. Setelah memanjat dan merasakan langkah raksasa di tumpukan bebatuan besar, brasa banget pegelnya ha ha ha. Memang tingkat kebudayaannya luar biasa.


Lanjut ke Bona Jade (kios giok terbesar milik pemerintah Cina) dan Baoshutang (pabrik obat kuat xi xi xi dan diminati para peserta cowok khususnya). Malamnya langsung nonton akrobatik Cina (gak sempat foto-foto dan juga dilarang foto-foto) dan ditutup dengan acara makan malam, sebelum akhirnya check-in di Union Life Jianguo Hotel, Beijing.

Hari ke-2, usai sarapan langsung tancap gas ke Lapangan Tien An Men dan Forbidden City alias istana kaisar Cina tempo dulu. Beuuuuuh benar-benar mengagumkan. Kemudian dilanjut dengan nyoba naik kereta bawah tanah (subway) dan disambung dengan kereta cepat Beijing-Tianjin pp yang ditempuh dalam sekali jalan cuma 30 menit doank. 

Malamnya, makan dan ada evaluasi di ruang pertemuan hotel. Kesan dan pesan selama di Beijing walau belum lengkap mencoba semua kereta tetapi secara infrastruktur, toooop abiz. Kelihatan pemerintahnya serius menggarap fasilitas publik.

Hari ke-3 : Melakukan perjalanan naik kereta cepat CRH dari Beijing ke Shanghai. Berangkat jam 08.00 dan tiba sekitar jam 13.00 di Shanghai Railway Station (ssst ternyata lokasinya bersebelahan dengan bandara internasional Shanghai).

Dilanjut makan siang di kota Shanghai lama (Fuzhi) kemudian dilanjut ke pabrik / toko sutera (Silk Market) dimana dijelaskan cara mendapatkan bahan yang baik dari ulat sutera. Juga diperlihatkan berbagai ragam kegiatan pemintalan hingga menjadi baju, seprei, bed cover dll. Luar biasa sekali.

Sore harinya, mampir ke TV Tower di kota Shanghai - kota ke 2 terbesar di daratan Tiongkok dan memiliki penduduk 24 juta jiwa. Woow bingits deh. Padahal luas wilayahnya hanya seperempat kota pemerintahan Beijing. Aje gileee.

Hari ke-4, nyoba kereta bandara Maglev dari kota Shanghai ke bandara internasional Pudong. Namun ada gangguan teknis sedikit. Kepulangan peserta yang sedianya menggunakan pesawat Garuda jam 10.00 diundur menjadi jam 18.00-an gitu. Tooop abiiiz. Untungnya dapat kompensasi 100 Yuan jadi agak terhibur dikit karena laparnya gak jadi he he he.

Mejeng di bandara dan tepatnya di Burger King ngobrol ngalor ngidul. Syukur alhamdulillah flight terlaksana dan sampe JKT jam 00.30, nyari bantal jam 03.00. Langsung tepar ! Tertidur pulas. Jam 07.00 alarm bunyi, ayoooo kerja lagi !

--- quote ---

 (artikel) PT. KAI Tingkatkan Kualitas SDM Dengan Studi Banding

Beijing (ANTARA News) - PT. Kereta Api Indonesia berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia mereka dengan melakukan studi banding ke Tiongkok dalam program "Melihat China Dalam Perspektif Perkeretaapian" pada 22-26 Oktober 2015.

"Seeing is believing. Mereka tidak akan tahu kalau tidak melihat sendiri, terutama dalam pelayanan, caranya seperti apa," kata Executive Vice President Daerah Operasi 8 Surabaya Wiwiek Widajanti kepada ANTARA News yang ikut dalam rombongan, Minggu.

Menurut Wiwiek, PT. KAI telah melakukan transformasi sejak 2010 yang hasilnya sudah bisa dinikmati para pengguna kereta api. "Transformasi kami terus lakukan sampai sekarang. Kalau mau seperti di Tiongkok, harus bekerja keras," ujar Wiwiek yang juga kapten dalam rombongan tersebut.

Sebanyak 64 pegawai PT. KAI melakukan studi banding dengan menjajal langsung empat macam kereta api di Tiongkok, antara lain Kereta Komuter (Subway) di Beijing, Kereta Api Cepat (CRH) dari Beijing ke Tianjin pada Sabtu (24/10).

Mereka juga menjajal kereta peluru atau Bullet Train dari Beijing ke Shanghai yang memiliki kecepatan maksimum hingga tiga kali lipat dari kereta api di Indonesia (350 km/jam), Minggu, serta akan mencoba kereta Maglev, kereta sangat cepat dengan teknologi magnetik pada Senin (26/10).

Beberapa waktu lalu, Indonesia dan Tiongkok baru saja menandatangani kesepakatan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Proyek senilai 5,5 miliar dolar AS ditandatangani Pimpinan China Railway International Yang Zhongmin dengan Dwi Windarto, Presiden Direktur konsorsium BUMN Indonesia, PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia.

"Harapannya, kalau jadi bisa seperti yang ada di Tiongkok ini. Perusahaan itu sudah teruji. PT. KAI yang memegang bagian operasional akan menyiapkan SDM," ungkap Wiwiek.

Setelah menjajal subway dan kereta cepat Beijing-Tianjin-Beijing, para peserta studi banding melakukan diskusi yang menyimpulkan bahwa banyak hal yang harus ditingkatkan PT. KAI untuk pelayanan yang lebih baik lagi.

"Pemeriksaan keamanan stasiun di Beijing seperti yang dilakukan di bandara. Kalau di bandara saja bisa, kenapa kita tidak menerapkan di stasiun," kata salah satu peserta, Manajer Operasi Kontainer Ruhara Agus Mulyono.

Di Stasiun Beijing South Railway Station, misalnya, penumpang harus melewati setidaknya dua lapis pemeriksaan tiket dan kartu identitas serta pemeriksaan barang. Dari segi pelayanan lainnya, petugas juga selalu siap melayani penumpang sehingga antrean panjang selalu bisa diatasi dengan penanganan yang cepat. Sebagai contoh, saat rombongan PT. KAI sedang mengantre, petugas langsung membuat barisan khusus tanpa harus koordinasi dengan atasan.

"Mereka tidak kaku, termasuk ketika ada grup langsung diatasi tanpa perlu ada persetujuan dari atasan, tidak seperti kita. Tidak pernah terlihat ada antrean yang begitu panjang," tutur Wiwiek.

Ketepatan waktu kereta di Tiongkok juga diakui para peserta studi banding selain infrastruktur, kebersihan serta fasilitas stasiun.

"Mereka sudah lebih modern dengan memanfaatkan berbagai macam teknologi. Kita juga bisa lihat sterilisasi jalur kereta api dengan pagar yang berlapis-lapis," ujar peserta lainnya Manajer Pengamanan Objek Vital dan Aset Daop 2 Bandung Mualimin Sukardi Abdullah.

Namun, dari berbagai kelebihan tersebut, masih ada pengemis yang bisa masuk di area stasiun meskipun ada pemeriksaan keamanan.

Sumber : Antara News, Pewarta : Monalisa, 25.10.15.

--- unquote ---

Dokumentasi terlampir diatas dan disini. Liputan pemberangkatan silahkan baca [KG-290/2015] China : Seeing Is Believing (part 1/2).

Sumber : KALOG - Langsung / Foto : RAM - The Wanderland.

[English Free Translation]
The trip to China started on October 22nd and back to Indonesia on October 26th. The Comparative Study Program “Seeing Is Believing”, combines the activities of the job experiences, education and travelling. How lucky we are …

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar