Rabu, 07 Oktober 2015

[KG-275/2015] Potensi Besar Distribusi Si "Emas Hitam"

JaKaRTa: Tahun 2015, merupakan tahun yang penuh tantangan bagi PT Kereta Api Logistik (KALOG). Fluktuatifnya kondisi perekonomian nasional berdampak pada bisnis perusahaan. Dengan pemetaan pengembangan bisnis, manajemen telah melihat peluang bisnis dari kegiatan bongkar muat atau loading/unloading (LO/LO) batubara di Sumatera Selatan (Sumsel).

Tingginya produksi batubara serta beroperasinya jalur ganda di Sumsel berdampak pada kebutuhan jasa LO/LO batubara di propinsi terkaya dengan sumber daya alamnya. Hingga saat ini, lebih dari 15 pemilik IUP (Izin Usaha Pertambangan) telah mengajukan kebutuhan jasa LO/LO batubara dengan total sekitar 50 juta ton per tahun.

Dilatarbelakangi oleh pertimbangan tersebut, tahun 2015 Manajemen memutuskan untuk mencurahkan komitmen dan seluruh upaya dalam mengembangkan bisnis LO/LO batubara, salah satunya dengan menggelontorkan dana sekitar 95% dari total investasi tahun 2015 guna mengakomodir kebutuhan investasi skala besar di Sumsel.

Salah satunya melalui pembangunan fasilitas railed method Gantry Crane yang diintegrasikan dengan belt conveyor system dan shiploader yang merupakan ide inovasi dan rancangan khusus KALOG dimana pengerjaan pembangunan tersebut diserahkan kepada anak perusahaan lain: PT KA Properti Manajemen (KAPM).

Pada tahap awal, KALOG telah menyiapkan fasilitas alat berat berupa 2 (dua) unit gantry crane  yang selanjutnya akan ditambah menjadi 5 - 6 unit. Ketersediaan alat berat tersebut guna memfasilitasi dan mendorong aktivitas LO/LO batu bara dalam kapasitas besar dari 1,8 juta ton (2014) dan ditargetkan menjadi 8 -11 juta ton mulai tahun 2016.

Saat ini KALOG melayani 2 pemilik IUP (di luar PT BA) dengan 3 (tiga) rangkaian KA per hari (stamformasi 54 GD @25 ton) ato setara dengan volume 2.700 ton dengan Waktu Perputaran Gerbong (WPG) selama 1 (satu) hari.

Ke depan, dengan penambahan fasilitas LO/LO, rekayasa pola operasi LO/LO serta ditunjang dengan ketersediaan infrastuktur dan sarana induk perusahaan, KALOG optimis mampu meningkatkan jumlah angkutan hingga 12 KA/hari.

Di area  Stasiun Sukacinta (SCT), KALOG melayani kegiatan loading dari stockpile ke KA menggunakan petikemas yang telah dimodifikasi (open top container). Kegiatan loading  dilakukan secara bersamaan untuk dua IUP sekaligus, dengan menggunakan alat berat standar berupa top loader, buldozer, wheel loader dan sebagainya.  

Sementara di Stasiun Kertapati (KPT), KALOG melayani kegiatan unloading dari KA dilanjutkan dengan kegiatan loading ke stockpile ato langsung ke tongkang di dermaga yang telah tersedia dengan menggunakan kombinasi alat berat berupa reach staker dan 2 unit gantry crane.

Selain pembangunan alat berat, KALOG juga melakukan ekspansi dengan menjajaki dan menyiapkan area-area lainnya di sekitar Sumsel dengan total kapasitas 29,8 juta ton/tahun. Sebagai area loading, KALOG akan memanfaatkan beberapa titik selain Stasiun Sukacinta diantaranya Stasiun (baru) Merapi dan Merapi-2, Stasiun Banjarsari, Stasiun Muara Lawai, Stasiun Kepur.

Sementara dua stasiun lain selain Kertapati akan difungsikan sebagai area unloading diantaranya Kertapati-2 dan Stasiun (baru) Kramasan dengan dua dermaga untuk mengakomodir kebutuhan loading ke atas tongkang.

KALOG Merambah Bisnis Terminal Laut

Pada Juli 2014, KALOG mencatatkan tinta emas perjalanan sejarah bisnis KALOG dengan dibentuknya   PT Terminal Batubara Internasional Srengsem (TBIS) sebagai anak perusahaan pertama yang diperuntukkan untuk mengelola Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS) di eks Pelabuhan Srengsem yang berlokasi di dekat Pelabuhan Panjang – Tanjungkarang dengan kapasitas 20 juta ton/tahun dan diharapkan dapat mulai beroperasi pada 2018.

TBIS dibentuk melalui Joint Venture Company (JVC) antara KALOG dengan salah satu mitra, guna mengelola bisnis pengelolaan terminal laut, khususnya untuk kegiatan LO/LO dan pengelolaan stockpile batubara bertujuan ekspor.

Batubara ini diangkut dari wilayah Lahat dan Tanjung Enim menggunakan KA menuju stasiun (baru) Srengsem yang berlokasi antara stasiun Sukamenanti dan Stasiun Tarahan. 
Dalam melakukan kegiatan operasionalnya, batubara dibongkar di emplasemen stasiun Srengsem menggunakan metode bottom down untuk setiap gerbong berkapasitas masing-masing 75 ton dengan target waktu bongkar selama 30 – 40 menit per KA (60 gerbong).

Selanjutnya, bongkaran batubara diangkut ke stockpile atau langsung diangkut menuju kapal mother vessel di tengah laut menggunakan belt conveyor dan shiploader.
Luas eks Pelabuhan Srengsem yang akan digunakan menjadi TUKS Srengsem saat ini sekitar 2,7 hektar dan masih dapat dikembangkan melalui reklamasi pantai menjadi sekitar 9 hektar.

Progress penyiapan TUKS Srengsem banyak melibatkan tahapan perizinan mulai dari tingkat Pemerintah Daerah setempat hingga Kementerian Perhubungan. Sebanyak 17 dari total keseluruhan 18 syarat TUKS telah terpenuhi dan ditargetkan rampung pada akhir September 2015 dan dilanjutkan dengan kegiatan ground-breaking pada akhir 2015.
Bisnis Lo/Lo Muat Batubara Sokong Bisnis KALOG lainnya

Upaya KALOG untuk fokus pada pengembangan di Sumatera Selatan dilatarbelakangi oleh strategi bisnis untuk saling mendukung layanan bisnis lainnya. Pendapatan yang dihasilkan dari kegiatan LO/LO batubara akan diperuntukkan untuk pembiayaan perbaikan 3 lini bisnis lainnya yaitu Angkutan Kereta Api Petikemas, Angkutan Kereta Api Non Petikemas dan Angkutan BHP Kurir.

Selain Lo/Lo batubara, saat ini KALOG juga tengah berupaya meningkatkan pendapatan dari lini lainnya. Pada angkutan petikemas, KALOG tengah menjajaki untuk membuka layanan dengan relasi baru seperti Stasiun Indro Baru, Stasiun Ronggowarsito dan kawasan SIER - PIER.

Serupa dengan angkutan non petikemas, dalam waktu dekat KALOG akan menjalankan rangkaian KA Semen milik PT STAR dimulai dengan relasi Stasiun Kretek – Stasiun Klari yang akan mulai beroperasi pada Oktober 2015 serta peningkatan volume angkut dan LO/LO semen milik PT Semen Baturaja di Sumsel.

Sementara angkutan BHP Kurir mulai optimis memetakan posisinya dalam industri jasa kurir di Indonesia melalui upaya-upaya pengembangan diantaranya perluasan jangkauan titik layanan melalui outlet-outlet baru, pemanfaatan gerbong B secara optimal serta penjajakan kerjasama dengan pihak lain untuk mengembangkan layanan pick-up dan delivery menggunakan portal online system.

Sumber : CorComm PT KALOG.

[English Free Translation]
The year 2015 marked as a year full of challenges for PT Kereta Api Logistik (KALOG). Fluctuating economic conditions nationwide impact on the company's business. By mapping business development, management has seen the business opportunity of the activities of loading and unloading (LO / LO) of coal in South Sumatera. And what is the next project ?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar