Sabtu, 01 Agustus 2015

[KU-209/2015] Legenda Arca Nyei Punggungi Gunung Raung

VIVA.co.id - Jalan Purbakala Desa Pekauman Kecamatan Grujukan sepintas tak berbeda dengan desa lain di Kabupaten Bondowoso. Namun, jika siapa pun yang masuk ke jalan itu akan menemukan aneka jenis batu tersebar di antara ladang tembakau atau tebu hingga halaman rumah penduduk setempat. Salah satu artefak yang terlihat menonjol adalah arca Batu Nyei, batu perempuan yang berdiri di tengah ladang tembakau, memunggungi gunung Raung yang berada di sisi timurnya.

“Itu batu Nyei, sudah ada sejak saya kecil,” kata Nihak, penduduk setempat, Selasa, 28 Juli 2015.

Seperti hari-hari sebelumnya, pagi itu, Nihak sedang mencari rumput di sela ladang tembakau, di sekitar Jalan Purbakala, Desa Pekauman. Dari kisah turun temurun, Nihak menyebut batu itu adalah sosok wanita yang menjadi batu akibat tersambar petir.

“Ceritanya, dia ditinggal suaminya ke pasar menjual daun, kemudian dia berlari menyusul dan tersambar petir menjadi batu,” kata Nihak sambil menunjuk arca batu yang menyerupai sosok perempuan tak jauh dari tempatnya mencari rumput.

Arca batu itu memiliki tinggi sekitar 2 meter dengan bagian kaki hingga lutut terkubur dalam tanah. Bagian wajah terpahat dengan kasar, menyisakan sedikit lekuk akibat terkikis zaman dan usia. Kedua tangan tampak menelangkup menutup vulva nya. Sedangkan bagian pinggul terpahat dengan ukuran yang lebih menonjol dibanding bagian pahatan lain.

“Sepertinya dia malu, jadi menutup kemaluannya,” kata Nihak.

Sementara arca suami atau batu Jei, dahulu juga ada sekitar 200 meter ke arah barat dari lokasi batu Nyei saat ini. Sayangnya, batu arca Jei tak lagi di lokasinya.

“Dulu ada batu suaminya, dia juga tersambar petir, tapi saya tak tahu sekarang di mana,” ujarnya.

Hingga saat ini, Nihak mengaku sering melihat pengunjung yang datang dan meninggalkan uang disekitar arca. Beberapa pengunjung bahkan sempat melilitkan kain putih untuk menutup bagian pinggang dari arca Nyei.

"Banyak yang naruh uang di patung itu, mereka berdoa sesaat, tidak tahu berdoa untuk apa.”

Arca Nyei Lambang Dewi Kesuburan

Juru Pelihara situs Purbakala di Pekauman, Amsari menyebut batu arca Nyei berusia sekitar 4.500 tahun lalu. Batu itu ditemukan sepasang dengan batu Jei atau arca batu laki-laki yang ditemukan belakangan, sekitar tahun 2010 lalu.

"Arca perempuan sudah lama ditemukan dan terdaftar. Arca laki-laki baru tahun 2010 saya temukan terkubur di ladang petani sekitar sini,” kata Amsari.

Petugas dari Balai Pelestari Cagar Budaya Trowulan Mojokerto, Jawa Timur itu mengatakan, arca pria berukuran 2,9 meter dengan diameter 1,2 meter kini tersimpan di Museum Mpu Tantular, Sidoarjo. "Arca ini adalah arca pemujaan untuk  kesuburan,” katanya.

Penduduk yang berbasis pertanian menggantungkan hidup mereka pada lahan dan air agar hasil panen melimpah. Tradisi batu besar diduga terbawa hingga zaman bercocok tanam di sekitar Pekauman.

“Pendukung jaman bercocok tanam masih menggunakan tradisi megalitikum di Pekauman. Arca itu adalah arca kesuburan, bisa diketahui dari ukuran pinggang yang lebih besar dibanding pahatan lain, melambangkan wanita yang sedang hamil sebagai simbol kesuburan,” ucap arkeolog asal Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono.

Karakter dewi kesuburan di berbagai kebudayaan dunia memiliki gambaran yang sama,  seperti patung Artemis di mitologi Yunani,yang juga dipahat dengan ukuran pinggang lebih besar. "Arca mother goddess sering digambarkan dengan bagian pinggang atau payudara yang besar, sebagai simbol kesuburan," katanya.

Batu yang berdiri memunggungi Gunung Raung diduga sebagai penanda bahwa penduduk Pekauman di zaman Batu Besar dan Bercocok Tanam menganggap Raung sebagai Gunung Suci. Raung sebagai tempat pemberi berkah sekaligus ancaman saat tengah erupsi.

"Memunggungi Raung artinya pelaksana ritual harus menghadap ke Gunung Raung. Berkiblat ke Raung adalah upaya spiritual masyarakat kuno untuk mencegah Raung agar tidak memuntahkan bahaya, sementara mereka membutuhkan Raung yang memberi kesuburan dari abu vulkaniknya.”.

Sumber : viva.co.id, 29.07.15.


[English Free Translation]
Archeological road Pekauman Village, District Grujukan glance no different from other villages in the regency. However, if anyone who got in the way it will find various types of stone scattered among the fields of tobacco or sugar cane to the home of the locals. One of the artifacts that stand out are the statues "Arca Nyei".

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar