Selasa, 11 Februari 2014

[KU-041/2013] Efisiensi Logistik, Shifting Angkutan Barang ke Kereta Api Tak Masalah

Bisnis.com, JAKARTA - Forum logistik nasional menilai pengalihan (shifting) angkutan barang dengan menggunakan moda transportasi kereta api tidak akan berdampak negatif terhadap perusahaan logistik berbasis truk.

Setijadi, Chairman Supply Chain Indonesia, menjelaskan langkah shifting angkutan logistik ke kereta api justru bakal meningkatkan produktivitas angkutan barang yang menggunakan armada truk.

"Shifting ini tujuannya memang untuk efesiensi ongkos logistik secara menyeluruh. Penggunaan KA akan bisa mengurangi beban dan kemacetan di jalan, sehingga jumlah trip truk bisa terdorong. Bahkan kedua moda logistik ini bisa saling bersinergi," katanya, Kamis (3/10).

Dia menambahkan pengurangan beban di jalan raya berpotensi besar mendorong produktivitas truk, khususnya dalam peningkatan jumlah trip bisa semakin meningkat yang selama ini cukup tertekan karena kepadatan maupun kemacetan di jalan.

Selain itu, kata Setijadi, sinergitas kedua angkutan logistik tersebut bisa dilakukan secara efesien mengingat kereta api hanya bisa mengangkut barang antar stasiun, sehingga mendorong penggunaan truk untuk pengangkutan barang dari lokasi pabrik ke stasiun dan sebaliknya.

Menurutnya, dari sisi efisiensi biaya transportasi dan logistik, penggunaan kereta api dinilai sangat penting terutama untuk jarak antara 500 km-1500 km, di mana pada jarak tersebut biaya transportasi termurah adalah dengan menggunakan kereta api.

Sejauh ini, sekitar 80% pergerakan transportasi logistik di Pulau Jawa melalui transportasi jalan lantaran para pelaku usaha lebih memilih penggunaan truk daripada kereta api karena alasan handling, jadwal, aksesibilitas, dan sebagainya.

"Namun shifting logistik dari jalan ke kereta api harus sejalan dengan infrastruktur pendukung yang memadai, seperti terminal dengan fasilitas dan peralatan bongkar muat di stasiun. Selain itu, operasionalisasi kereta api untuk pengangkutan barang harus secara profesional, yang bisa dilakukan melalui kerja sama operasi dengan pihak swasta," kata Setijadi.

Adapun, pergerakan pengiriman barang melalui kereta api terus menunjukkan pertumbuhan di dua wilayah operasional kereta api di Tanah Air.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah barang yang diangkut kereta api sepanjang Januari-Agustus 2013 mencapai 17,3 juta ton, tumbuh 13% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 15,3 juta ton.

Kepala BPS Suryamin mengemukakan pertumbuhan paling tinggi terjadi di Pulau Jawa dengan pertumbuhan pengiriman barang melalui kereta api hingga 27,6% sepanjang Januari-Agustus 2013. Di Sumatra juga terjadi peningkatan 7,8% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Secara terperinci, realisasi angkutan barang menggunakan kereta api di Pulau Jawa mencapai 5,1 juta ton, sedangkan pada  tahun lalu sebanyak 3,9 juta ton.

Untuk wilayah Sumatra, angkutan barang dengan kereta api pada Januari-Agustus 2013 tercatat 12,2 juta ton, naik dibandingkan dengan tahun lalu 11,3 juta ton.
Sumber : Bisnis Indonesia, 03.10.13.
[English Free Translation]

National logistics forums assess, transfer (shifting) of goods transportation by using railway facilities will not negatively impact the truck-based logistics company. Setijadi, Chairman of Supply Chain Indonesia, said step of shifting freight to rail logistics it will increase the productivity of freight using a fleet of trucks.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar