Sabtu, 07 Februari 2015

[KA-038/2015] Salam Undur Dari Dirut PT KCJ - Tri Handoyo

JaKaRTa: Walau tak sempat mengenal banyak sosok yang satu ini, mayoritas karyawan dan masyarakat luas pengguna jasa commuter line (CL) alias kereta rel listrik (KRL) pasti akrab dengan penampilan pria berkaca mata yang acap menghiasi monitor jadual perjalanan CL di stasiun maupun di media massa.

Setelah bertugas selama 6,5 tahun di PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ), saatnya untuk menyelami dunia lain. Sehingga dikesempatan kemarin beliau menyampaikan ungkapan perasaannya selama di KCJ via milis internal.

Berikut ini cuplikan email Dirut KCJ – Tri Handoyo saat menyampaikan salam perpisahannya. Selamat menyimak. Juga cuplikan foto dokumenter selama Tri Handoyo berkiprah di PT KCJ. Enjoy.

--- quote ---

Yth Bapak dan Ibu insan KAI,

‪Mulai tgl 3 Februari 2015 saya tidak menjabat lagi sebagai Direktur Utama PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) setelah berdinas 6,5 tahun sejak dilantik tgl 20 Agustus 2008 sebagai Direktur Keuangan.
‪Saat ini posisi KCJ adalah,

A. Volume penumpang naik 2X lipat menjadi 700 ribu per hari dengan jumlah perjalanan 757 KA,
B. Total volume thn 2014 mencapai 200jt penumpang dgn pendapatan Rp. 1,2 triliun,
C. KCJ telah membeli 664 unit KRL sejak tahun 2009 sd 2014 dan tahun 2015 akan didatangkan lagi 120 unit KRL.

‪Volume penumpang akan tumbuh terus sejalan dengan penambahan KRL tanpa perlu khawatir terjadi penurunan penumpang. Hal tersebut karena KCJ baru mengangkut sekitar 4% dari total penduduk yang hilir mudik di Jabodetabek

‪Sementara itu, DKI Jakarta dinyatakan sebagai kota paling macet diantara 78 kota diseluruh dunia menurut Castrol Magnatec Stop-Start Index 2014 dan belum ada solusi terpadu untuk mengurangi kemacetan.

‪Maka KCJ yg mengangkut penumpang dari 4 penjuru utama (Bekasi, Bogor, Serpong, Tangerang) akan terus menjadi adalan transportasi massal. Dan tentunya volume penumpang akan terus naik kecuali ibukota Indonesia dipindahkan.

‪Beberapa faktor penting untuk mendukung operasi KRL adalah:

1. Tempat stabling

2. Kapasitas lintas

3. Sterilisasi stasiun

4. Kapasitas pemeliharaan

5. Revenue Collection (E-ticketing)

‪Untuk meningkatkan kapasitas pemeliharaan beberapa hal sudah dilakukan,

1. Membuat kontrak pengadaan sparepart langsung dari manufaktur.

2. JR East sebagai mantan pemilik KRL akan menempatkan pegawainya setingkat General Manager (GM) menjadi pegawai KCJ mulai bulan Maret 2015 untuk membantu pemeliharaan KRL.

3. JR East akan mengikat kontrak MSA (Maintenance Service Agreement) untuk memelihara KRL.

‪Sedangkan revenue collection utk menjamin pengembalian investasi dan biaya operasi telah diterapkan sistem e-ticketing. Sejak diterapkan secara menyeluruh pada tgl 1 Juli 2013, sistem e-ticketing telah berkembang dengan pesat. Langkah awal dikeluarkan kartu KCJ sendiri dimana untuk sekali jalan dengan nama THB (Tiket Harian Berjaminan) dan utk perjalanan berkali2 dikeluarkan KMT (Kartu Multi Trip) kemudian ditingkatkan dengan penerimaan 4 kartu dari bank yg berbeda yaitu Bank Mandiri, BCA, BNI dan BRI.

Dan baru saja ditingkatkan lagi bersama Sony Felica dgn memungkinkan sistem eticketing mampu menerima platform chip tipe C sehingga sistem E-ticketing KCJ menjadi salah satu di Asia Pacific yg dapat menerima seluruh platform chip yg ada di dunia yaitu Tipe A, B dan C. Saat ini utk chip tipe C penerapannya berupa gelang utk eticketing (foto terlampir)

Direncanakan pada semester 2 thn 2015, handphone akan dapat digunakan sebagai e-ticketing untuk menggunakan KRL sehingga tidak perlu lagi kartu tapi cukup dengan Handphone dan Indosat akan mendukung penerapan ini. (Foto terlampir)


Jadi walaupun KCJ mengeluarkan biaya untuk capex dan opex maka dgn sistem e-ticketing yang baik akan ada jaminan pengembalian melalui revenue collection yang efektif

Faktor-faktor penting diatas telah berjalan pada jalur yang tepat dan tentu saja semua pencapaian ini karena dukungan penuh dari KAI dibawah kepemimpinan pak Jonan dan pak Edi Sukmoro

Saya yakin pada tahun 2019, volume penumpang akan mencapai 1,2 juta.

Untuk menciptakan visi kedepan tidak perlu menerawang batu akik dan memakai banyak cicin batu akik tapi cukup datang ke Tokyo dan melihat bagaimana JR East membangun raksasa KRL. Dengan rel sepanjang 7 ribu kilometer (KAI sekitar 6 ribu km), volume mencapai 17juta penumpang per hari didalamnya termasuk 13juta penumpang komuter dengan jumlah perjalanan 13 ribu KA per hari dgn headway setiap 2,5 menit, sangat efisien. Tapi tidak semua yg ada di sana dapat ditiru karena faktor budaya dan disiplin yg sangat berbeda

Demikian yang dapat disampaikan, mohon maaf apabila selama berdinas ada tutur kata dan tindakan yg kurang berkenan dan semoga KAI dan seluruh anak perusahan terus berkembang dan jayalah kereta api.

Terima kasih.

Salam dari warga KCJ.
……………………………………………………………………………………………….

Catatan lain yang dimuat di rubrik "Kompasiana" sebagai berikut,

(artikel) Tri Handoyo Lepas Jabatan Dirut PT KAI Commuter Jabodetabek

Selasa, 3 Februari 2015 | 22:01 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Tri Handoyo resmi melepas jabatannya sebagai Direktur Utama PT KAI Commuter Jabodetabek per 3 Februari 2015. Dia digantikan oleh Mantan Direktur Utama PT Railink M Fadli.

Handoyo dalam konferensi pers kerja sama pengembangan tiket elektronik di Stasiun Juanda, Jakarta, Selasa (3/2/2015), mengatakan pengunduran diri tersebut dilakukan untuk penyegaran di struktur organisasi KCJ.

"Saya meminta maaf apabila ada salah dengan rekan-rekan karena mulai hari ini, saya tidak memimpin KCJ lagi dan digantikan Pak Fadli dari Railink," ucap Tri.

Dia mengaku sudah berkecimpung di perkeretaapian selama delapan tahun, sejak Agustus 2008, namun ia menjabat sebagai Dirut KCJ dua tahun dua bulan.

Handoyo mengungkapkan, setelah melepas jabatan sebagai Dirut KCJ, dia akan berfokus mengurusi hal pribadi dan menikmati masa tuanya.

"Saya mau istirahat, kalau orang-orang ditanya pasti bilangnya mau urus cucu, tugas pelayanan publik saya sudah selesai," ujarnya.

Tri Handoyo bergabung dengan KCJ pada 2008 sebagai Direktur Keuangan dan Sumber Daya Manusia (SDM) selepas bekerja sebagai bankir investasi di Citibank.

Mulanya, perusahaan tersebut masih berbentuk divisi, yaitu Daerah Operasi (Daop) I Divisi Jabodetabek PT KAI.

Pada 2012, dia ditunjuk sebagai Direktur Utama KCJ. Ia dipercaya untuk dan dapat mengangkut penumpang sebanyak-banyaknya dengan fasilitas dan pelayanan yang prima.

Sejak 2008 hingga saat ini, pendapatan terus meningkat. Pada 2013, pendapatan Rp 800 miliar, dan target tahun ini Rp 1,2 triliun, kontribusi terhadap total pendapatan KAI sekitar 10 persen.

KCJ berkomitmen untuk mencapai target mengangkut 1,2 juta orang setiap hari pada tahun 2019, saat ini pada jam sibuk mencapai 700.000 orang.

Sumber : Antara – Kompas, 03.02.15.

--- unquote ---


Mengagumkan, sekaligus membanggakan. Terima kasih atas dedikasi dan komitmennya selama bertugas. Saluuuut !

Sumber : Tri Handoyo.

[English Free Translation]

After working for 6.5 years in national railways industry, Tri Handoyo officially released his position as Director of PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) by February 3, 2015. He was replaced by former President Director of PT Railink M Fadli. Thanks pak Tri, and welcome pak Fadli.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar