Kamis, 12 Mei 2016

[KU-130/2016] Kalau Akuisisi INKA Terealisasi. KAI Mau Revitalisasi 890 Kereta Uzur


JAKARTA: Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) semakin gencar melakukan pemangkasan jumlah perusahaan BUMN den­gan menggabungkan perusahaan sejenis. Selain holding perusahaan energi dan konstruksi, pemerintah juga menggelontorkan wacana pembentukan holding perusahaan di sektor konektivitas.

Dalam rencana itu, PT Angka­sa Pura I (Persero) atau (AP I) dan PT Angkasa Pura II (Persero) atau (AP II) rencananya akan digabung, sedangkan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau (KAI) akan mengakuisisi BUMN produsen kereta, PT Industri Kereta Api (Persero) atau (INKA).

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI), Edi Sukmoro menyatakan, jika rencana pemerintah tersebut terealisasi, KAIakan melakukan revitalisasi usia armada yang saat ini dinilai sudah berusia uzur.

"KAI akan membeli 890 kereta penumpang kelas ekonomi, bisnis dan eksekutif. Dari jumlah terse­but, armada yang bakal diganti sebanyak 51 persen. Umumnya kereta berusia di atas 30 tahun," kata Edi di Kementerian BUMN.

Ia menjelaskan, penggantian armada yang sudah berumur tua tidak lepas dari upaya pening­katan keselamatan perjalanan kereta api. Pasalnya, usia teknis kereta yang diperkenankan se­cara keselamatan ialah 33 tahun. Bila melebihi usia itu, Edi mengakui ada potensi mengganggu perjalanan kereta dan penump­ang di atasnya.

"Life time-nya seharusnya 33 tahun, sehingga kalau ada kelebihannya dan diperbaiki, maka akan berisiko. Kita sudah cicil pembaruan armada mulai tahun ini, sekitar 300 kereta per tahun," tegasnya.

Edi mengatakan, terkait akui­sisi INKA, pihaknya pernah menyampaikan keinginan akui­sisi tersebut ke Kementerian BUMN. Menurutnya, jika INKA masuk ke KAIbisa dilakukan penghematan, tetapi berapa penghematannya, Edi mengaku belum menghitungnya.

Alasan KAI ingin mengakuisi­si INKA adalah untuk memenuhi kebutuhan kereta api dalam mendukung program percepatan pembangunan Trans Sumatera, Sulawesi, Kalimantan dan Papua. Dengan INKA di bawah KAI langsung, kata Edi, pengembangan bisnis bisa lebih sejalan mengikuti kebutuhan pengguna atau operator kereta. Alhasil, berbagai kebutuhan kereta dan peralatan bisa dimaksimalkan dari industri dalam negeri.

"Kalau kita sanggup, ngapain mesti impor lagi kalau kita bisa. Pegawai kita bisa jadi lebih banyak, teknologi bagus. Saat ini ke­mampuan INKA masih merang­kak, contohnya kita beli gerbong datar (ke INKA) 1.200, retak 200. Kita cari kelemahannya seperti apa, kita perbaiki biar kita bisa berkompetisi," tuntasnya.

Sumber : Rakyat Merdeka, 08.05.16.

[English Free Translation]
The Ministry of State-Owned Enterprises (SOEs) more aggressive to cut the number of state-owned enterprises by combining similar companies. In addition to the energy and construction holding company, the government also poured issue of establishment of a holding company in the connectivity sector.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar