Minggu, 05 April 2015

[KU-094/2015] Sepadankah Minto Stone Ditukar Uang? Sejarawan UGM: Utamakan Diplomasi

Jakarta - Prasasti Sangguran dari tahun 928 yang berasal dari wilayah sekitar Malang telantar di Inggris dan belum berhasil dikembalikan oleh keluarga Lord Minto, yang menguasai prasasti itu lantaran meminta uang kompensasi. Lantas, apakah sepadan bila untuk mengambil kembali prasasti itu dengan sejumlah uang kompensasi?

"Ya saya kira diplomasi harus dikedepankan. Artinya bagaimana kita membuat kesepakatan secara umum, agar prinsip bahwa kalau ini artefak milik orang kembalikan ke negara asalnya," jelas sejarawan dari Universitas Gadjah Mada, Sri Margana (foto atas), saat ditanya detikcom apakah sepadan mengembalikan Minto Stone dengan sejumlah kompensasi.

Hal itu dikatakan Sri Margana usai diskusi Bedah Sejarah VOC 1602 Batavia di Kemendikbud, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (11/2/2015).

Doktor sejarah lulusan Universitas Leiden Belanda ini menambahkan, Indonesia bisa melakukan diplomasi dengan barter artefak, bila memiliki artefak dari negara lain.

"Menurut saya, setiap artefak kalau saya termasuk orang paling setuju kalau itu diserahkan kepada siapa pemiliknya. Sikap itu juga berlaku untuk artefak-artefak kita yang ada di luar negeri. Kalau yang di Inggris (Minto Stone) itu saatnya dikembalikan. Kalau semua orang begitu, maka terjadi saling tukar menukar artefak," jelas pria berkaca mata ini.


Prasasti Sangguran dibawa dari lokasi aslinya di Desa Ngandat, Malang, pada tahun 1812 atas perintah Gubernur Jenderal Inggris di Pulau Jawa saat itu, Thomas Stamford Raffles.

Prasasti itu dihadiahkan Raffles pada atasannya Gubernur Jenderal Inggris di India, Sir Gilbert Elliot atau Earls Minto I, yang kemudian membawa prasasti itu di kediaman keluarganya di Hawick, Roxburghshire, perbatasan Skotlandia dan Inggris.

Pengambilan prasasti yang berisi kutukan itu mendapat izin dari penguasa lokal, Bupati Malang saat itu, Kiai Tumenggung Kartanegara, yang juga dikenal sebagai Kiai Ranggalawe. Kiai Ranggalawe adalah keturunan penguasa di Surabaya, yang dikenang sebagai bupati pertama Malang yang 'bersahabat'. Dia ditunjuk sekitar tahun 1770, saat militer Belanda melakukan kampanye pada kalangan pemberontak. Kiai Ranggalawe diketahui hidup hingga tahun 1820.

Dari laporan dokumen sejarawan Inggris, Nigel Boullough, didapati bahwa Pemerintah Indonesia pada 2006 lalu sudah mencoba melobi keluarga Lord Minto. Salah satu hal yang dibahas adalah bagaimana nilai “Batu Minto” dapat ditaksirkan dengan uang. Ini tetap menjadi pertanyaan yang amat sulit untuk dijawab secara memuaskan.

Sejarawan Inggris Professor Michael Hitchcock menganjurkan bahwa, meskipun para Minto Trustees telah mencari nasehat dari British Museum serta Victoria and Albert Museum, kiranya kedua lembaga tersebut tidak akan menentukan harga bagi “Batu Minto”, terutama karena lembaga publik dilarang melakukan taksiran terhadap sebuah benda. Rupa-rupanya para ahli di museum tersebut telah mengatakan bahwa “Batu Minto” mempunyai nilai yang “substansial” dan “signifikan”, dan nasehat inilah yang ditafsirkan sendiri oleh para Trustees.

Khususnya mengenai soal ganti rugi bagi keluarga Minto, Dubes RI di London saat itu, Marty Natalegawa memperlihatkan sikap yang cukup tegas. Menurut Marty, penawaran kompensasi dalam bentuk uang, berapa pun jumlahnya, merupakan tindakan yang kurang tepat.

Meskipun beliau menyadari bahwa kasus seperti ini jarang sekali terjadi, rupa-rupanya beliau khawatir bahwa kompensasi finansial untuk Lord Minto dapat menimbulkan preseden bagi pemilik Warisan Budaya Indonesia yang lain di masa depan.

Namun hingga 2015 ini, sejarawan Peter BR Carey mengatakan Prasasti Sangguran masih di pekarangan keluarga Lord Minto. Menurutnya, keluarga Lord Minto meminta uang yang sangat banyak sebagai imbal dari pengembalian prasasti itu.

"Pemerintah sudah ada usaha, tapi mereka, orang Skotlandia pelit dan minta uang segunung, 70 ribu poundsterling," ungkap dia saat ditemui di Galeri Nasional, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Jumat (6/2/2015) malam.

Sumber : detikNews, 11.02.15.

[English Free Translation]

Inscription Sangguran (Prasasti Sangguran) in the year 928, from the area around Malang stranded in the UK and has not been restored by the Lord Minto’s family, who controlled the inscription because the’re asking for money compensation. The Scots are known stingy and Lord Minto family reportedly requested compensation of 70 thousand pounds. Wooow !


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar