Rabu, 01 April 2015

[KU-090/2015] Cerita Subakir, Dari 'Tukang Parkir' Kereta Jadi Direktur Anak Usaha KAI

Jakarta - Ignasius Jonan membuka lebar peluang karir saat menjabat Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero). Sistem reward dan punisment diberlakukan. Tidak memandang usia dan level pendidikan, Jonan melakukan pengangkatan hingga rotasi jabatan secara cepat.

Pegawai dengan kinerja kinclong akan dipromosikan, sedangkan kinerja turun atau bermasalah maka akan dicopot tanpa padang bulu. Lewat pola karir tersebut, Subakir, seorang pegawai KAI yang mengawali karir sebagai juru langsir atau parkir kereta hingga penjaga palang pintu bisa memiliki peluang menduduki posisi direktur di salah satu anak usaha KAI, yaitu PT Kereta Api Logistik (KA Log).

"Maret 1983 saya diterima di KAI. Saya diterima sebagai pelaksana di stasiun besar Sidotopo (Surabaya). Di sana tugas pokok penjaga pintu perlintasan di Jalan Kenjeran, terus dinas juru langsir alias tukang parkir kereta, juru rumah sinyal, juru wesel, PPKA, dan menjadi staf kepala stasiun Sidotopo selama 14 tahun. Jadi 14 tahun itu jadi pelaksana (petugas paling bawah)," kata Subakir saat ngobrol santai bersama detikFinance di Kantor Pusat KA Log, Stasiun Gondangdia, Jakarta Pusat, Selasa (24/3/2015).

Jabatan sebagai direktur diperoleh dari hasil uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) yang ketat. Pria yang kini berusia 52 tahun itu telah melewati jenjang karir yang cepat, semasa Jonan menjabat Dirut KAI. Ia akhirnya dipercaya sebagai Direktur Operasi PT KA Logistik.

"Saat dilantik sebagai VP Pengendali di KAI Pusat, saya diperintahkan untuk ikut fit and proper test di UI (Universitas Indonesia). Di situ mulai jam 08.00-21.00. Dari hasil fit and proper, ternyata saya duduki ranking pertama. Setelah saya pengendali Kru KA selama 1,5 bulan, kemudian saya dimutasi jadi Dir Ops (Direktur Operasional) PT KA Logistik bulan Agustus 2014 saat periode terakhir Pak Jonan," terang Subakir.

Tanpa Jonan, kesempatan menjadi pimpinan atau direktur sangat tipis bahkan bisa dibilang mustahil. Apalagi Subakir hanya mengenyam pendidikan sampai Sekolah Menengah Atas (SMA). Meski berbekal ijazah SMA, Subakir berusaha dan berkomitmen bekerja dengan total. Artinya, gaya kerja Subakir harus di atas rata-rata sarjana.

"Kalau sarjana nggak mampu kerja ya langsung di-grounded, sehingga perputaran pegawai cepat. Kalau nggak ada putaran ini, kita nggak mungkin (bisa jadi direktur) dan kita sudah terbuang," ujarnya.

Selain melakukan perombakan manajemen karir, KAI pada periode Jonan melakukan peningkatan kesejahteraan karyawan. Dari gaji pas-pasan, Jonan menaikkan level kesejahteraan karyawan KAI di atas rata-rata. Meski gaji dinaikkan, perusahaan justru untung. Padahal saat gaji rendah, KAI malah mengalami kinerja keuangan negatif.

"Begitu kita kembangkan struktur organisasi dengan perimbangan karir, ternyata membuat pendapatan atau keuntungan cukup besar. Dari rugi jadi laba selama 2008 neraca rugi. Saat perubahan Pak Jonan masuk ke sana cukup cepat," jelasnya.

Kesempatan pengembangan karir di perseroan dirasakan oleh semua karyawan KAI, termasuk mantan bawahan Subakir. Ia mengaku banyak bawahannya yang kini memiliki karir cemerlang, mulai manajer hingga Vice President.

"Staf saya banyak berubah. Waktu itu saya Kepala Stasiun. Staf saya sekarang dia jadi VP, yang manajer juga banyak," tutur Subakir.

Sumber : detik.com, 24.03.15 / Foto : Adjeng Putri.

[English Free Translation]

Ignasius Jonan open wide career opportunities when he was Director of PT Kereta Api Indonesia (Persero). Reward & Punishment system enforced. Regardless consider of age and level of education, Jonan made rapid rotation. One example is Subakir who now serves as Operations and Marketing Director PT KALOG.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar