Senin, 06 April 2015

[KG-095/2015] KALOG : Negara Memacu Kereta

Pada editorial Media Indonesia tanggal 6 April 2015 menampilkan judul “Negara Ketinggalan Kereta” yang membahas mengenai perumpamaan “ketinggalan kereta” sebagai sebuah pernyataan yang menunjukkan keterlambatan dalam mengikuti perkembangan jaman yang ada. 

Dalam editorial tersebut juga disebutkan bahwa ada beberapa hal yang “ketinggalan kereta” di Indonesia ini, misalnya penggunaan tabung gas sebagai sarana distribusi gas ke masyarakat, padahal di negara lain sudah menggunakan jaringan gas perumahan yang biayanya hanya 30% dari biaya gas tabung.

Selain itu, editorial tersebut juga membahas mengenai wacana tol laut yang selama ini didengungkan oleh Pemerintahan Jokowi – JK. Sebagai wacana, editorial tersebut memunculkan data yang menarik bahwa dalam hal pengangkutan barang dari Tokyo – Miyagi (Jepang) dengan jarak 720 KM sudah mencapai 52%. Fakta lain, transportasi dari Rorvik – Bodo (Norwegia) dengan jarak 550 KM mencapai 48%. Akan tetapi, untuk Jakarta – Surabaya (Indonesia) dengan jarak 800 KM hanya mencapai angka 9%.

Fakta dalam editorial tersebut menunjukkan bahwa Indonesia saat ini masih terpaku oleh sistem yang diterapkan pada jaman tahun 1990-an. Di masa keemasan industri pada masa itu, pemerintah membangun sangat banyak infrastruktur jalan yang gunanya untuk menghubungkan akses antar kota utamanya di Pulau Jawa ini. Dengan adanya fasilitas jalan yang baik, maka para pemilik usaha berlomba-lomba untuk membeli kendaraan angkut sendiri guna mengantarkan produk yang dihasilkannya ke tujuan.

Masa itu merupakan surga bagi para pemilik kendaraan, dikarenakan fasilitas angkutan publik seperti kereta api dan kapal pengangkut belum bermetamorfosis seperti saat ini. Kereta api pada masa itu masih dikelola dalam bentuk Perusahaan Jawatan (PJKA), yang tidak memiliki orientasi bisnis, sehingga seringkali pelayanan pelanggan bukan menjadi perhatian utama bagi perusahaan tersebut.

Seiring dengan berjalannya waktu, tanpa disadari jumlah kendaraan semakin bertambah, dimana pada sisi lain kapasitas jalan pun semakin terbatas dan Pemerintah semakin sulit memperluas jaringan jalan tersebut dikarenakan alasan harga yang sudah semakin mahal dan sulit dilakukannya pembebasan lahan. Dengan kondisi tersebut, saat ini sudah banyak sekali ditemukan berita terjadinya kemacetan parah dalam perjalanan dari Jakarta – Surabaya, atau sebaliknya. Kemacetan tersebut membuat pengiriman barang yang tadinya nyaman, lambat laun menjadi sebuah kesulitan tersendiri bagi pemilik bisnis.

Di sisi lain, dengan telah bertransformasinya perusahaan kereta kpi dari jawatan menjadi persero, menjadikan perusahaan ini mempunyai daya saing yang kuat untuk dapat melakukan repositioning dalam melaksanakan bisnisnya. 

Direktur Utama KAI yang saat ini menjabat sebagai Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan, selalu mengedepankan pentingnya penerapan 5 nilai utama di PT. KAI (Persero) yaitu integritas, professional, keselamatan, inovasi, dan pelayanan sebagai kunci untuk dapat mengejar ketertinggalan kereta yang selama ini telah terjadi di KAI.

Konsistensi penerapan 5 nilai utama di PT. KAI (Persero) tersebutlah yang nantinya dapat menunjukkan bahwa kereta api akan menjadi salah satu moda transportasi darat yang dapat mendukung tercapainya biaya transportasi yang mempunyai daya saing dalam menghadapi MEA 2015.

Kesungguhan PT. KAI (Persero) ini ditujukkan dengan cara memberikan dukungan penuh kepada PT Kereta Api Logistik (KALOG) sebagai anak perusahaan yang dikhususkan untuk menerapkan 5 nilai utama dalam menjalankan bisnis transportasi barang. Apalagi saat ini KALOG telah melakukan banyak terobosan dan inovasi untuk meningkatkan keselamatan dan pelayanan kepada konsumen.

Dengan 5 nilai utama yang akan diterapkan di kereta api dan anak perusahaannya, maka seharusnya Negara tidak lagi “ketinggalan kereta” dalam mengadaptasi perubahan iklim bisnis dan persaingan yang sudah semakin global, akan tetapi Negara akan memacu kereta untuk dapat tampil menjadi solusi untuk dapat bersaing di era globalisasi ini.

Oleh : VP Quality Assurance & Internal Control PT KALOG - Erwin Suryadi, 06.04.15.

[English Free Translation]

Is it true that this country amid confusion and less promising national railway industry? Only time will tell. An article from the VP QA & IC PT KALOG which highlighted similar issues. Enjoy the article.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar