Sabtu, 16 Agustus 2014

[KU-224/2014] Alasan Jonan Tak Mau Pesan Kereta di INKA


JAKARTA: Beberapa aksi korporasi PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau PT KAI kerap menjadi bahan evaluasi banyak kalangan. Salah satu aksi korporasi yang menuai banyak kritik adalah keputusan manajemen pihak KAI membeli KRL bekas dari Jepang.

PT KAI dianggap tidak memaksimalkan perusahaan milik negara yang selama ini ikut memproduksi KA di dalam negeri yakni, PT INKA. Dirut PT KAI dalam sebuah kesempatan menyatakan pilihan PT KAI membeli KRL dari Jepang dilakukan karena memang INKA sendiri sebagai pabrik kereta dalam negeri belum mampu memproduksi KRL.

“Kenapa enggak (KRL) baru dari INKA? Memang tahu INKA bisa bikin KRL? Ini persoalannya. Apa INKA bisa buat KRL, jawaban saya tidak,” tuturnya. Menurutnya, INKA sebagai tulang punggung dunia perkeretaapian nasional harus dibantu pemerintah secara serius.

Menurutnya, perusahaan yang telah berdiri sejak 1979 itu sudah tertinggal jauh dari perusahaan sejenis di negara lain yang berumur jauh lebih muda. “INKA itu kenapa tidak bisa berkembang, bukan soal tupoksi. Ini juga soal kepemimpinan.

Tanyakan saja kepada Menteri Ristek atau Menteri BUMN apa masalahnya,” katanya. Ia menegaskan, jika pemerintah serius membantu pengembangan perusahaan tersebut, dunia perkeretaapian nasional akan bergerak lebih agresif lagi seperti halnya perkembangan perkeretaapian di berbagai negara maju.

“Seperti di Korea, kenapa bisa maju melewati INKA yang sudah lama berdiri, karena pemerintahnya benar-benar serius mendorong pengembangannya,” tukasnya.

Sumber : Okezone, 31.07.14.

[English Free Translation]
PT KAI is considered can not maximize the role of PT INKA,  the state-owned company which has been co-produced trains in the country. President Director of PT KAI stated, why PT KAI have purchase option to buy commuter line (CL) train from Japan because it INKA has not been able to produce it.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar