Tuesday, July 2, 2013

[KU-180/2013] Batubara, Perusahaan Korea Siap Investasi US$90 Juta


BISNIS.COM, JAKARTA--Konsorsium perusahaan Korea Selatan menyiapkan US$90 juta untuk membangun pabrik peningkatan kualitas batu bara kelas rendah (low rank coal), dengan menggunakan teknologi pencampuran residu minyak sawit.

Jooho Whang, President Korea Institute of Energy Research (KIER), mengatakan akan mewakili konsorsium perusahaan asal Korea Selatan untuk mengembangkan teknologi coal upgraded by palm oil (CUPO) di Indonesia. Teknologi tersebut akan diimplementasikan bersama PT Sucofindo (Persero) dengan membangun pabrik di Sumatra Selatan.
“Kami melihat Indonesia sebagai negara yang menjanjikan karena memproduksi batu bara cukup banyak dan sekitar 40% diantaranya adalah low rank coal. Selain itu, Indonesia menjadi negara yang mengekspor batu bara terbesar di Korea Selatan,” ujarnya, Selasa (25/6).
Jooho mengungkapkan Indonesia merupakan negara pertama yang akan menerapkan teknologi CUPO, karena sebelumnya teknologi yang menggunakan aspal gagal di lakukan. Nantinya, CUPO yang diproduksi di dalam negeri akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik di Korea Selatan.
Konsumsi batu bara di Korea Selatan sendiri mencapai 100 juta ton per tahun dan 40 juta ton diantaranya impor dari Indonesia, dengan komposisi 20% di antaranya adalah batu bara kualitas rendah. KIER selama ini menyuplai kebutuhan batu bara untuk 19 power plant yang masing-masing membutuhkan 4 juta metric ton batu bara per tahun.
Direktur Komersial III PT Sucofindo (Persero) Sufrin Hannan mengatakan pembangunan pabrik peningkatan kualitas batu bara itu akan dilakukan pada awal 2014. Dengan perkiraan waktu pembangunan selama 10 bulan, ditargetkan pada Oktober 2014 pabrik tersebut mulai berproduksi.
“Pabrik itu akan dibangun dengan mekanisme JOB [joint operation body], dengan investasi dari pihak Korea Selatan. Jadi mereka yang membawa teknologinya, kami yang akan memfasilitasi agar teknologi itu dapat diimplementasikan di dalam negeri,” jelasnya.
Menurutnya, pabrik peningkatan kualitas batu bara memiliki kapasitas 6 juta ton per tahun. Pemilihan Sumatra Selatan sebagai lokasi pembangunan pabrik tersebut didasarkan ketersediaan batu bara dan minyak sawit yang melimpah di daerah tersebut.
Kerja sama dengan JOB itu, lanjut Sufrin, juga memungkinkan untuk mengakuisisi wilayah kerja pertambangan batu bara kualitas rendah untuk mendapatkan kepastian pasokan.
Bahkan, KIER juga bersedia membangun mini power plant sendiri untuk memenuhi kebutuhan listrik pabrik yang akan dibangun itu.
“Sebanyak 6 juta ton itu paling tidak dapat menghasilkan 2.000 megawatt. Mungkin tidak harus diekspor semua ke Korea Selatan, karena Indonesia sedang membangun banyak pembangkit listrik tenaga uap, makanya tentu kami memerlukan banyak batu bara,” tuturnya.
Teknologi yang dikembangkan KIER itu nantinya akan mampu mencampur dengan baik residu minyak sawit ke dalam batu bara.
Dengan begitu, kandungan air di dalam batu bara akan berkurang secara maksimal dan residu minyak sawit yang tertinggal di dalamnya akan meningkatkan nilai kalori batu bara.
Peningkatan kualitas batu bara ini dianggap sebagai salah satu alternatif solusi bagi perusahaan batu bara dalam menghadapi kondisi menurunnya permintaan batu bara kualitas rendah.
Apalagi, Pemerintah China juga telah mengisyaratkan penghentian impor batu bara karena alasan lingkungan.
Selain itu, pemerintah juga sejak lama mewacanakan pelarangan ekspor batu bara kualitas rendah untuk menjaga cadangan batu bara nasional.
Sumber : Bisnis Indonesia, 25.06.13.

[English Free Translation]

Consortium of South Korean companies set up USD 90 million to build a plant to improve the quality of low grade coal (low rank coal), using palm oil residue mixing technology.

No comments:

Post a Comment

[KU-179/2021] Dirut KAI Commuter Mukti Jauhari Tutup Usia

  Bisnis.com, JAKARTA - Keluarga besar KAI Group khususnya KAI Commuter hari ini berduka. Direktur Utama KAI Commuter Mukti Jauhari meningg...