Selasa, 09 Februari 2016

[KU-039/2016] Penggusuran Warga Pinggiran Rel Jangan Hanya Sudutkan PT KAI

MEDAN: Pengamat Sosial dari Universitas Muhammdiyah Sumatera Utara (UMSU) Shohibul Anshor Siregar mengatakan, "Sudah jelas ada aturan jarak bangunan dengan rel KA, tapi masih ada warga yang membangun rumah dan sudah berlangsung selama puluhan tahun. Sebaiknya daerah pinggiran rel itu dimanfaatkan sebagai lahan penghijauan, bukan tempat tinggal, dan bukan tempat aktivitas lain seperti usaha sektor formal,” lanjut Shohibul.

Dia juga meminta kepada warga untuk legowo, karena itu bukan hak mereka. "Kepada warga, kita berharap agar niat baik PT KAI memberikan uang tali asih dihargai seberapa pun nilainya.”

Sebelumnya, warga berharap agar uang tali asih ditambah. Namun PT KAI menegaskan tidak ada tambahan uang tali asih sebesar Rp1,5 juta itu.

"Tidak ada penambahan, jangan berandai-andai. Itu hanya wujud terimakasih karena masyarakat mau berkomunikasi dengan kami," ujar Manajer Humas Divre 1 Rapino Situmorang.

Uang tali asih sebesar Rp1,5 juta per kepala keluarga itu bersumber dari pemerintah, dalam hal ini Ditjenka. Dan itu merupakan kebijakan, bukan kewajiban yang mengikat sesuai perundang-undangan. Pihaknya diakui Rapino, sudah menyerahkan tali asih kepada 1.600 KK, termasuk yang berada di kawasan Mandala By Pass.

"Sisanya tinggal 200 KK lagi. Yang belum itu karena mereka tidak berada di tempat dan data di KK-nya tidak sesuai," katanya.

Sumber : Sumut Pos, 29.01.16 / Foto : MedanSatu.

[English Free Translation]
Social observers of North Sumatera Muhammadiyah University (UMSU) Shohibul Anshor Siregar said, "It is clear there are rules within the building with railroads, but still there are people who build houses and have been going on for decades. We recommend suburban rail used as the reforestation area, not a place to stay, and not the place of other activities such as formal sector enterprises". Its very clear opinion.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar