Minggu, 24 November 2013

[KU-313/2013] Berkereta Di Jalur Historis

JAKARTA: Sejak memimpin PT Kereta Api Indonesia (KAI) beberapa tahun lalu, Pak Jonan seperti tak henti-henti mengeluarkan berbagai jurus untuk membenahi perusahaan pelat merah ini. Ia antara lain membuka trayek-trayek baru berjarak tempuh pendek yang bisa menjadi pilihan bagi masyarakat yang tidak ingin menghabiskan waktu bersama kemacetan lalu-lintas.

Yang mutakhir dan menarik ialah langkahnya untuk menghidupkan kembali jalur-jalur kereta yang selama ini tidur panjang. Salah satu jalur yang dihidupkan kembali ialah Bogor-Sukabumi. Di tengah keluhan banyak pihak ihwal betapa macetnya lalu lintas kendaraan bermotor di jalur penghubung kedua kota di Jawa Barat itu, ikhtiar KAI ini patut disambut. Ini jalan keluar yang konkret dan menjadi alternatif yang menarik.

Waktu tempuh antara kedua kota niscaya menjadi lebih pendek, lantaran hambatan-hambatan berkurang, kendatipun kereta yang dioperasikan mungkin bukan dari jenis kereta cepat. Lagi pula, yang diharapkan publik sebenarnya keselamatan, kebersihan, serta ketepatan waktu berangkat dan tiba yang didahulukan ketimbang kecepatan. Bila kereta bisa berangkat dan tiba tepat seperti yang dijanjikan, konsumen niscaya senang.

Kapasitas angkut yang relatif besar juga merupakan jurus penghematan yang berarti. Dibandingkan mobil pribadi maupun bis, kereta sanggup membawa penumpang jauh lebih banyak. Penggunaan sumber daya, termasuk bahan bakar, rasanya juga lebih hemat.

Yang khas, dalam hemat saya, naik kereta untuk menempuh perjalanan antar kota di wilayah Parahyangan bisa menjadi pengalaman wisata yang mengasyikkan. Menyusuri gunung dan lembah, dengan trek yang berkelok-kelok rasanya lebih nikmat memakai kereta ketimbang mobil atau bis. Apa lagi jika nanti, perjalanan kereta bisa diteruskan bukan hanya sampai Sukabumi, tapi hingga Cianjur dan Bandung. Aktivitas ekonomi boleh jadi juga meningkat lantaran kemudahan dalam bepergian.

Bagi pecinta studi sejarah, menyusuri jalur yang mungkin puluhan tahun silam pernah digunakan jelas memberi kesan tersendiri. Stasiun-stasiun kecil, bahkan mungkin pos-pos pengawasan yang agak terpencil, sanggup menawarkan historical memories bahkan mungkin hingga ke masa kolonial.

Soal tarif? Nah, di sinilah masyarakat pengguna kereta dapat ikut berkontribusi agar layanan kereta kita bertambah baik. Bila tarif ini masih wajar dan secara bisnis tidak membebani pengelolanya, mengapa kita keberatan? Bila industri dan jasa kereta api kita maju, kita juga yang menikmatinya. Iya kan? ***

Oleh : Dian, dimuat di Blog TEMPO Interaktif, 20.11.13.

[English Free Translation]

Since lead PT Kereta Api Indonesia (KAI) a few years ago, Mr. Jonan like endlessly issuing various moves to reorganize state-owned company. He, among others, to open a new route-stretch within a short journey that could be an option for people who do not want to spend the time with traffic jams.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar