Selasa, 24 Desember 2013

[KU-343/2013] Jonan, Dahlan & Para Pahlawan

Kamis 19 Desember 2013. Sebuah upacara sederhana serempak berlangsung di tiga lokasi berbeda. Inilah puncak penghormatan dan penghargaan kepada tiga awak KRL 1131 yang gugur dalam kecelakaan di Bintaro, 9 Desember 2013.

Balai Pelatihan Teknik Perkeretaapian Bekasi resmi memiliki nama baru Balai Pelatihan Teknik Perkeretaapian Sofyan Hadi. Balai Pelatihan Teknik Traksi Yogyakarta menyandang nama baru Balai Pelatihan Teknik Traksi Darman Presetyo. Balai Pelatihan Operasi dan Pemasaran Bandung berubah nama menjadi Balai Pelatihan Operasi dan Pemasaran Agus Suroto.

Tiga direktur PT Kereta Api Indonesia (KAI) berbagi tugas meresmikan tiga nama baru tersebut. Direktur Sarana Bambang Eko Martono meresmikan BPTP Sofyan Hadi, Direktur Operasi A Herlianto meresmikan BPTT Darman Presetyo, dan Direktur SDM dan IT Muhamad Kuncoro Wibowo meresmikan BPOP Agus Suroto. Masing-masing dihadiri keluarga Almarhum.

Ini adalah sebuah tradisi baru di lingkungan KAI. Untuk pertama kalinya karyawan yang gugur dalam tugas memperoleh penghormatan yang demikian tinggi. Perubahan nama itu dilakukan melalui SK Direksi yang ditandatangani Direktur Utama Ignasius Jonan.

Tapi Jonan memilih tidak hadir dalam peresmian ketiganya. Dia tidak ingin kehadirannya di salah satu lokasi menyebabkan keluarga almarhum di dua lokasi lainnya merasa kurang dihargai.

Jonan ingin ketiga syuhada itu tidak hanya mendapat penghargaan dan penghormatan tertinggi, tetapi juga abadi. Dengan demikian dedikasi dan militansi kepada tugas yang mereka tunjukkan bisa terus menginspirasi para karyawan KAI, khususnya mereka yang menjadi ujung tombak keselamatan perjalanan kereta api.

Inspirasi yang menyeruak dari aksi dramatik tiga awak KRL 1131 itu adalah sisi lain yang menyedot perhatian publik. Seperti oase menyejukkan di tengah hiruk pikuk wacana para pengambil kebijakan tentang flyover, underpass, dan seterusnya.

Mari kita putar waktu, mundur sejenak ke hari Kamis, 12 Desember 2013. Pagi, ketika berlangsung ajang akbar MarkPlus Conference 2014.

Sebagai Ketua Dewan Juri, Menteri BUMN Dahlan Iskan bertugas megnumumkan dan meyerahkan trophy kepada 18 Marketing Champion. Sebelum penyerahan, Dahlan menyampaikan pidato singkat.

Awalnya semua berlangsung wajar. Dahlan menyatakan kegembiraannya karena kehadiran para marketer dan marketing enthusiast di acara itu menunjukkan dunia marketing masih akan tetap bergairah. Kegairahan itu penting supaya di tahun 2014 mendatang yang semarak bukan cuma politik, tapi juga bisnis dan marketing.

Ada sejumlah direktur utama BUMN yang menerima award hari itu. Dua orang tidak bisa hadir, yaitu Direktur Utama Indonesia Port Corporation RJ Lino dan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Ignasius Jonan. Dahlan menjelaskan alasan mengapa keduanya tidak hadir, dimulai dari RJ Lino.

Nada suara Dahlan mendadak berubah ketika dia menyampaikan ketidakhadiran Ignasius Jonan, yang meraih Marketing Champion untuk kategori transportasi. Penghargaan serupa juga diraih Jonan di ajang yang sama tahun 2012.

"Ada yang tidak bisa naik panggung saat ini yaitu Pak Jonan, beliau lagi berduka, saya selalu berkomunikasi dengan Pak Jonan, dia tahu bahwa saya juga sangat berduka," kata Dahlan. Ia mulai terisak, menahan tangis.
Ballroom The Ritz Carlton Pacific Place yang disesaki 5.000 hadirin berubah senyap. Semua yang hadir memusatkan perhatian ke atas panggung, menyimak kata demi kata yang meluncur terbata-bata dari mulut Dahlan.

Dahlan bertutur, kecelakaan itu terjadi di saat Jonan dan KAI sedang giat-giatnya berbenah. Sedang hebat-hebatnya melakukan perbaikan. Publik pun sudah mengapresiasi, dengan memberikan berbagai penghargaan dalam dua tahun terakhir. Kecelakaan itu, menurut Dahlan, sama sekali bukan kesalahan KAI.

Dahlan makin tak kuasa menahan emosi saat bercerita tentang tindakan masinis, asisten masinis, dan teknisi yang memilih tetap menjalankan tugas di saat ancaman maut di depan mata. Hingga mereka menemui ajal dalam tugas.

Dahlan mencoba menahan emosi. Suaranya bergetar makin keras. "Orang tersebut lebih memilih mengorbankan nyawanya. Padahal dia bisa saja melompat untuk menyelamatkan diri."

"Saya dan Pak Jonan sangat bangga karena masinis rela mengorbankan nyawanya. Kami akan mengangkat anggota keluarganya, siapa pun dan umur berapa pun, menjadi karyawan tetap. Kami akan membiayai anaknya sampai perguruan tinggi."

Tidak ada yang baru dalam penuturan Dahlan. Koran-koran dan televisi sudah mengulasnya. Tapi emosinya yang spontan, suaranya yang terisak, membawa semua yang hadir pagi itu menyelami kepahlawanan Sofyan Hadi dan kawan-kawan. Tidak sedikit yang terhanyut dan menitikkan air mata.

Aplaus panjang hadirin mengakhiri penuturan Dahlan tentang ketidakhadiran Jonan. Aplaus yang ditujukan untuk Jonan dan para syuhada Bintaro.

Ignasius Jonan bukannya tidak hadir di acara itu, tapi hanya sebentar dan langsung balik kanan ke kantor. "Saya datang untuk menghormati guru saya Pak Hermawan Kartajaya. Tapi saya tidak bisa menerima penghargaan itu dalam kondisi seperti sekarang," kata Jonan kepada panitia yang menemuinya.

Hermawan adalah guru Jonan semasa sekolah di SMA St Louis Surabaya, tepatnya di Kelas 3 Sos 1.
Acara tahunan MarkPlus Inc itu berlangsung di saat perhatian publik tercurah pada kecelakaan Bintaro. Salah satu angle yang banyak dipilih media adalah drama kepahlawanan tiga syuhada Bintaro: Masinis Darman Prasetyo, Asisten Masinis, Agus Suroto, dan Teknisi Sofyan Hadi.

Harian Kompas, misalnya, memasang foto peti jenazah mereka saat disemayamkan di Stasiun Gambir, sebagai foto utama di halaman depan.

Jonan merasa bukan saat yang tepat untuk naik panggung dan menerima penghargaan. Tapi dia tidak mungkin tidak datang memenuhi undangan gurunya. Dia sempat menanyakan apakah ada waktu bagi dirinya untuk menyampaikan sepatah dua patah kata.

Jika diberi kesempatan pidato, dia bersedia naik panggung untuk menyampaikan kepada publik bahwa penghargaan itu bukan untuk dirinya, tapi untuk tiga syuhada Bintaro.

Dalam rundown acara, penerima award sektor memang tidak diagendakan berbicara. Hanya best of the best, yaitu Marketer of The Year 2013 - diraih Dirut Telkom Arief Yahya- yang mendapat kesempatan itu. Maka Jonan menempuh jalan tengah, hadir di acara, tanda tangan, menyampaikan salam hormat kepada Hermawan, lalu kembali.

Ada baiknya Jonan tidak berbicara di forum itu. Sebab bisa jadi dia akan lebih emosional dibanding Dahlan. Seperti yang terjadi saat dia memberikan penghormatan terakhir di Stasiun Gambir, Selasa 10 Desember.
Sebelum acara berlangsung dia sudah mewanti-wanti jajaran Humas KAI untuk tidak mengundang media. 

"Wajah saya sudah jelek begini, nangis, dipotret dan dishoting tivi, bisa tambah jelek," katanya serius. Urat humornya memang tidak pernah kendor.

Toh dia tidak bisa berbuat apa-apa ketika puluhan kamera sudah siap di lokasi saat dia datang. Dia telat datang karena mendampingi Jokowi memantau perjalanan KRL pasca kecelakaan 9 Desember.

Jonan tentu tidak menyangka, pesan yang ingin ia sampaikan di hadapan peserta MarkPlus Conference sudah dikemukakan oleh Dahlan Iskan. Dengan penuh emosi pula.

Kosro
Hubungan Dahlan dan Jonan terbilang unik dan istimewa. Meminjam istilah Jawa, keduanya adalah tumbu ketemu tutup. Wadah yang mendapat penutup yang pas. Klop.

Seperti apa? Mari kita putar jarum waktu lebih jauh lagi.

Hingga tahun 2011 PT KAI harus menerima perlakuan tak adil dalam urusan angkutan barang. Angkutan barang dengan truk diberi keistimewaan boleh menggunakan BBM bersubsibi, sementara angkutan barang dengan kereta api harus menggunakan BBM industri alias non-subsidi.

Sesuai Peraturan Presiden Nomor 9 tahun 2006, KAI harus membayar Rp 9.000 per liter solar, sementara angkutan jalan hanya Rp 4.500.

Akibatnya angkutan barang dengan KA tidak berkembang. Selama tahun 2010, volume angkutan barang KA hanya 17.415 ton atau 0,63% dari total angkutan barang. Bandingkan dengan angkutan jalan yang bisa mengangkut barang hingga 2.514.150 ton atau 91.25%.

Jonan tidak paham bagaimana awalnya kebijakan itu dirumuskan. Selain menyebabkan angkutan barang KAI nyaris bangkrut, kebijakan itu menyebabkan ekses serius. 

Meningkatnya angkutan truk menyebabkan jalan raya makin macet. Pemerintah pun harus menanggung biaya pemeliharaan jalan raya tidak kurang Rp 1,2 triliun per tahun untuk kawasan Pantura saja.

Sementara PT KAI harus membiayai sendiri pemeliharaan jalan rel dan fasilitas pendukungnya. Akibatnya biaya produksi angkutan barang KAI menjadi tinggi sehingga tarif yang ditetapkan tidak kompetitif.

Ketidaksamaan perlakuan itulah yang digugat Jonan. Harus ada equal treatment. Jika memang harus membayar Rp 9.000 per liter, KAI tidak keberatan sepanjang angkutan jalan raya juga dikenakan tarif yang sama. “Level of playing field-nya harus sama sehingga persaingan menjadi fair,” kata Jonan.

Maka sejak menjadi Dirut KAI tahun 2009, Jonan memperjuangkan tuntutan itu ke berbagai pihak, di pemerintahan maupun di DPR. Beberapa kali dia menulis surat dan menghadap ke pejabat terkait. Hasilnya nihil. Tuntutannya tidak digubris. Serangkaian demonstrasi karyawan KAI pun tak membuat para pengambil kebijakan tergerak merevisi kebijakan itu.

Belum genap sepekan menjadi Menteri BUMN, Dahlan Iskan menerima laporan terkait ketimpangan itu. Secara terbuka Dahlan menyatakan dukungannya agar KAI memperoleh subsidi BBM untuk angkutan barang.
Dahlan tidak hanya bersuara. Pada 25 Oktober 2011, ia mengirim surat bernomor
S-554/MBU/2011 ke Menteri ESDM Jero Wacik. Isi surat itu meminta agar PT KAI memperoleh kesetaraan harga BBM untuk angkutan barang.

“Dengan adanya kesetaraan harga BBM tersebut, PT Kereta Api Indonesia diharapkan akan dapat bersaing dan meningkatkan jumlah pengguna angkutan barang yang menggunakan moda kereta api, sehingga dapat mengurangi kepadatan angkutan di jalan raya, mengurangi tingkat kerusakan jalan raya akibat beban berat angkutan (truk), serta mengurangi polusi udara akibat emisi gas buang angkutan (truk) di jalan raya,” tulis Dahlan dalam suratnya.

Upaya gigih Jonan dan dukungan Dahlan akhirnya mendapat respon positif pemerintah. Setelah melalui beberapa kali sidang kabinet dan rapat koordinasi tingkat menteri, pada 7 Februari 2012 terbit Peraturan Presiden Nomor 15 tahun 2012, yang antara lain menyebut angkutan barang dengan kereta api berhak menggunakan BBM bersubsidi.

Keputusan ini sangat besar artinya bagi KAI. Bagi Jonan, angkutan barang adalah bisnis masa depan yang sangat prospektif.

Ketika Jonan menjalankan mission impossible menertibkan stasiun dan perjalanan KA di seantero Jabodetabek, sebagai konsekwensi Peraturan Presiden Nomor 83 tahun 2011, terjadi kegaduhan luar biasa. Hiruk pikuk.
Jonan tidak hanya menghadapi perlawanan para pemilik kios, mahasiswa, dan LSM, serta opini melalui media yang menyudutkan. Ia juga harus berhadapan dengan banyak pihak yang menuntutnya untuk mundur dari KAI.

Desakan agar Jonan dicopot pun sampai ke meja Dahlan. Ribuan SMS dikirim ke Dahlan, meminta agar Jonan ditegur, dimarahi, dan bahkan dicopot. Tapi Dahlan tidak hiraukan semua itu. "Saya tahu Jonan bukan orang yang korup, bukan orang yang melakukan sesuatu untuk kepentingan dirinya atau kelompoknya, Jonan sangat tulus, semua yang dilakukan demi masyarakat dan demi negara. Saya sampaikan kepadanya: jalan terus!"

Dahlan banyak mendapat keluhan dari masyarakat Sukabumi, tentang kemacetan parah yang setiap hari mengepung kota itu dari semua arah. Ada aspirasi agar jalur KA Bogor-Sukabumi dibuka lagi, untuk memperlancar mobilitas warga. Dahlan setuju dan menyempaikannya ke Jonan.

Jonan menyanggupi reaktivasi jalur Bogor-Sukabumi dengan syarat ada perintah yag jelas dari pemerintah pusat. Pasalnya, KAI sudah tiga tahun mengajukan izin ke Kementerian Perhubungan untuk menghidupkan sejumlah jalur yang sudah ditutup, tapi tidak ada respon.

Jika harus melalui proses birokrasi, dikhawatirkan reaktivasi Bogor-Sukabumi menghadapi kendala serupa.
Senin, 21 Oktober 2013, berlangsung Pencanangan BPJS Kesehatan di Sukabumi yang dihadiri Presiden SBY. Seluruh direksi BUMN hadir dalam kegiatan tersebut. Hampir semua yang hadir mengeluhkan sulitnya akses ke Sukabumi akibat kemacetan yang parah. Dalam pidatonya, Dahlan menyinggung soal itu, dan memerintahkan PT KAI agar segera menghidupkan kembali jalur kereta api Bogor-Sukabumi.

Gayung bersambut. Dalam sambutannya Presiden SBY menyatakan dukungannya agar jalur yang sudah ditutup lebih satu tahun itu dibuka kembali. "Pak Dahlan saya dukung penuh. Saya mendukung penuh agar prakarsa BUMN menjadi solusi," ucap Presiden.

Dahlan memberi waktu dua bulan bagi KAI untuk melaksanakan tugas tersebut.
Berbekal perintah dan dukungan itu, Jonan mengerahkan segenap potensi KAI untuk reaktivasi jalur Bogor-Sukabumi. Hasilnya, hanya butuh waktu sekitar tiga pekan bagi KAI untuk merealisasikannya. Pada 9 November 2013, KA Pangrango beroperasi melayani jalur tersebut. Rencana KAI, jalur yang reaktivasi jalur akan dilanjutkan hingga Cianjur dan Bandung.

Pada 25 September 2013, Dahlan Iskan mencanangkan Program BUMN Bersih, Ini adalah agenda aksi untuk mewujudkan BUMN bersih dari korupsi, melalui sebuah road map yang terencana dan terukut. Ketika menyebut orang-orang yang akan menjadi tim pelaksana, nama pertama yang disebut adalah Ignasius Jonan.

Tim itu kini tengah bekerja, diketuai pejabat eselon satu Kementerian BUMN. Anggotanya, selain Jonan, antara lain Direktur Utama PT PNM Parman Nataatmadja dan mantan Dirut Bank Mandiri Zulkifli Zaini.

Dahlan dan Jonan bisa klop karena keduanya disatukan oleh semangat untuk kerja keras, antusias, dan mengedepankan integritas. Keduanya juga memiliki power of execution, kemampuan untuk mengeksekusi rencana dan kebijakan yang menjadi kewenangannya.

Selebihnya, keduanya disatukan oleh komunikasi yang cair khas Suroboyoan. Dengan ringan Dahlan kerap menyebut Jonan sebagai sosok yang kurang waras, ndableg alias ekstra bandel, juga kosro.

Kosro adalah ungkapan khas Surabaya, untuk menggambarkan sosok yang urakan, rada kasar, tabrak sana-sini, tapi tanpa niat jelek atau itikad jahat. Jonan, kata Dahlan, memang sosok yang "menyebalkan dilihat tapi perlu."

Dalam kultur Suroboyoan, umpatan yang paling kasar sekali pun tidak selalu berarti jelek atau negatif. Bahkan bisa bermakna respek dan ciri keakraban.

Makna seperti itulah yang bisa ditangkap dari kolom Manufacturing Hope edisi Senin, 16 Desember 2013. Ini adalah kolom rutin Dahlan Iskan yang dimuat di berbagai media. Pada Manufacturing Hope ke-107 itu Dahlan mengungkapkan refleksinya seputar kecelakaan Bintaro 9 Desember 2013.

Dahlan menyinggung bagaimana Jonan terluka dan terguncang oleh peristiwa itu. Sebab kecelakaan itu terjadi di saat dia gencar-gencarnya memperbaiki kinerja KAI, di saat banyak penghargaan yang dia terima, di saat semangatnya lagi membumbung tinggi. Jonan juga menyinggung kepahlawanan tiga awak KRL 1131.

Wartawan senior itu mengakhiri catatannya dengan nasihat: Jonan, begitulah kehidupan ini.

Sumber : Kompasiana, ditulis oleh Hadi Mustofa Djuraid, 20.12.13.

[English Free Translation]

Thursday, December 19, 2013. A simple ceremony took place simultaneously in three different locations. This is the pinnacle of respect and tribute to KRL 1131 three crew members who died in a crash at Plastica, December 9, 2013. And there is a story between Jonan and Dahlan Iskan therein.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar