Kamis, 05 Desember 2013

[KU-324/2013] Batubara Dianggap Masa Depan Pembangkit Listrik Dunia


Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo, Jepang

TRIBUNNEWS.COM - Kerjasama Adaro dengan Itochu Corporation di bidang pembangkit listrik tenaga batubara dianggap baik dan masa depan pembangkit listrik dunia diperkirakan salah satunya ke arah batubara.
Demikian diungkapkan Dr. Takeo Kikkawa, seorang profesor dari Universitas Hitotsubashi khusus kepada Tribunnews.com, Jumat (9/11/2013) di Tokyo.

"Kerjasama Adaro di Indonesia dengan Itochu menjadi contoh dan langkah pertama Indonesia yang baik untuk pembangkit listrik di masa depan. sayangnya Serjasama tersebut bukan antar pemerintah kedua negara," paparnya.

Kikkawa melihat dan mengharapkan Jepang akan mengubah kebijakan pembangkit tenaga listriknya dari yang sekarang banyak menekankan ke Nuklir menjadi ke sumber alam atau termal energy, salah satunya ke batubara, termasuk perubahan struktur ini juga dilakukan di negara lain di dunia, perkiraannya.

Untuk mengantisipasi pemanasan dunia Kikkawa juga melihat adanya pendekatan dua negara (bilateral) untuk perdagangan (bilateral credit) guna mengurangi gas CO2.

"Jepang sendiri sudah memutuskan untuk melakukan reduksi 25 persen (320 juta ton) di tahun 2020 dan pengurangan tersbeut dianggap memang memungkinkan.

"Pembangkit listrik dengan tenaga batubara merupakan sumber tenaga listrik terbesar di dunia. Jepang menggunakan 41 persen, Amerika (46 persen), China (78 persen) dan India (68 persen). Sejumlah 1.464 juta ton pengurangan CO2 dimungkinkan secara horisontal dengan menggunakan teknologi Jepang ke negara-negara pemakai batubara tersebut."

Itulah sebabnya Itochu kemungkinan besar menggunakan teknologi bersih batubara tersebut di Indonesia
Meskipun demikian satu kerangka kerja yang baru tetap diharapkan muncul dari Kyoto Protocol antara negara per negara karena hal ini sangat baik untuk pengurangan pemanasan dunia.

Menurut data IEA, badan energi dunia, per 2010 Jepang menggunakan bahan baku batubara cukup banyak (27,4 persen), minyak (8,8 persen), gas alam (27,4 persen), nuklir (26 persen), hidro power (7,4 persen) dan lain-lain (3,1 persen).

 

Sumber : TribunNews, 09.11.13.

[English Free Translation]

Cooperation between Adaro with Itochu Corporation in the field of coal-fired power plants are considered good and the future of the world's electricity. This was stated by Dr. Takeo Kikkawa, a professor of Hitotsubashi University.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar