Selasa, 17 Desember 2013

[KU-336/2013] Jonan & Kecelakaan Bintaro


Minggu petang 8 Desember 2013, menjelang pukul 17.00. Direktur Utama PT Kereta Api (Persero) Ignasius Jonan menelepon Rono Pradipto, Direktur Keselamatan dan Keamanan. Tidak seperti biasanya telepon Rono tidak aktif. Berulang kali Jonan menelepon, tidak ada respon.

Tidak ada soal penting yang hendak disampaikan Jonan. Ia menelepon sekadar menuruti firasat hatinya. Entah mengapa sore itu Jonan merasa sesuatu akan terjadi. Ia menelepon Rono untuk memastikan semua sistem dan perangkat penunjang keselamatan perjalanan kereta api di seluruh jalur dan lintasan bekerja dengan baik.

Senin siang 9 Desember, Bandara Kualanamu Medan. Jarum jam sudah bergesermendekati pukul 11.45 WIB. Jonan yang baru keluar dari pesawat Garuda Indonesia bergegas mengaktifkan telepon selulernya. Ekspresinya berubah serius. Sejumlah panggilan dari pimpinan KAI dan PT KAI Commuter Jakarta (KCJ), sejumlah sms dan bbm, masuk ketika ponselnya tidak aktif selama penerbangan hampir dua setengah jam.

Laporan masuk: terjadi kecelakaan di perlintasan kereta api Jln. Bintaro Permai, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. pukul 11.25. Kereta Commuter Line 1131 jurusan Serpong-Tanah Abang menabrak truk tangki Pertamina. Ada korban tewas dan puluhan korban luka-luka.

Spontan Jonan menghubungi pusat kendali operasi KAI di Stasiun Manggarai Jakarta. Dia minta laporan terbaru dari lokasi kecelakaan. Orang pertama yang ia beri tahu kejadian itu adalah Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono.

Jonan bersama Direktur Prasarana KAI Candra Purnama berada di Medan untuk mendampingi Bambang Susantono meninjau Kereta Api Bandara Kualanamu. Sudah sejak 14 November 2013 Airport Railink Services (ARS) beroperasi full service berstandar internasional, setelah rangkaian KA dari Korea Selatan lulus uji sertifikasi.

Rencananya, selepas mendampingi Wamenhub Jonan menyampaikan briefing ke jajaran Daerah Operasi 1, lalu meluncur ke TB Gramedia Sun Plaza Medan untuk jadi nara sumber bincang buku Jonan & Evolusi Kereta Api Indonesia, pukul 16.30-18.00. Ia dijadwalkan terbang kembali ke Jakarta dengan flight terakhir Garuda pukul 20.50 Wib.

Untuk kepentingan bincang buku itulah saya ikut ke Medan, di samping ingin melihat dari dekat perkembangan ARS.

Menyusul kabar kecelakaan hebat itu, Jonan menyampaikan keinginan untuk langsung kembali ke Jakarta. Namun karena harus mendampingi Wamenhub, keinginan itu diurungkan.

Sekitar dua jam Wamenhub merasakan dan melihat dari dekat KA Bandara Kualanamu. Meninjau Stasiun Besar Medan, lalu kembali menggunakan KA ke Kualanamu International Airport.

Jonan berusaha kembali ke Jakarta secepatnya dengan penerbangan terdekat. Ada beberapa penerbangan non-Garuda. Tapi semuanya sudah penuh, dan tidak ada jaminan on time. Akhirnya Jonan mendapat seat di GA 191 pukul 16.25.

Waktu menunggu dimanfaatkan Jonan untuk memantau dan mengendalikan penanganan kecelakaan Bintaro. Lounge Stasiun KA Bandara pun berubah menjadi pusat komando. Tidak sejenak pun telepon selularnya jeda menerima panggilan atau mengirim pangggilan, menerima sms dan bbm, atau mengirim sms dan bbm.

Ia melapor kepada para pejabat Kemenhub dan Kementerian BUMN, menjawab pertanyaan anggota DPR, dan merespon permintaan wawancara. Candra Purnama dan Humas KAI Sugeng Priyono tak kalah sibuk.

KAI punya prosedur baku crisis management. Semua jajaran yang terkait dengan penanganan kecelakaan sudah bergerak sesuai tugas masing-masing. Kepada jajaran KAI dan KCJ Jonan memastikan SOP penanganan kecelakaan bekerja dengan baik.

Ada ketegangan, namun tidak kepanikan. Ada kekhawatiran, tapi bukan ketakutan.
Penyejuk udara yang sudah bekerja sejak Jonan memasuki ruangan, seolah tidak menyemburkan hawa dingin.
Sesekali dia menyeruput kopi, dan menyedot rokok. Sebentar berdiri, lalu duduk, berdiri, duduk lagi. Makan siang yang disajikan sama sekali tidak disentuh.

Tapi karakter humorisnya tidak bisa dibendung. Ketika seorang karyawan perempuan muda menyajikan buah manggis dan rambutan binjai, dia nyeletuk. “Mana Fadhil, kan saya bilang tadi saya mau yang rambut hitam, bukan rambut begini.” disambut tawa yang hadir. MN Fadhil adalah Direktur Utama Railink, operator KA Bandara Kualanamu.

Toh rambutan binjai dan manggis segar itu sama sekali tak menggugah seleranya. Kecelakaan Bintaro menyita seluruh perhatian.

Instruksinya jelas. Pertama, utamakan evakuasi dan penanganan korban. Unit Kesehatan KAI dan KCJ diperintahkan untuk mengurus korban luka dan meninggal dengan maksimal sampai tuntas. Kedua, segera upayakan perbaikan dan normalisasi lintasan. Ketiga, selesaikan persoalan sesuai ketentuan hukum agar ada efek jera.

Ia meminta istrinya, Ratnawati Jonan, agar mendampingi keluarga masinis dan petugas teknik yang tewas dalam kecelakaan itu.

Melalui media, Jonan menyampaikan bela sungkawa mendalam atas jatuhnya korban. Ia tak hendak mencari kambing hitam. Namun dia berpandangan, kecelakaan tidak akan terjadi andai pengguna jalan raya disiplin mematuhi peraturan lalu lintas.

Sampai dia boarding, laporan yang masuk empat orang korban meninggal dunia. Dua adalah karyawan kereta api, yaitu masinis Darman Prasetyo dan petugas teknik Sofyan Hadi, dan dua orang penumpang.

Penerbangan Medan-Jakarta terasa lebih lama dari biasanya. Jonan tidak bisa tenang. Ia terus memainkan ponsel dalam posisi airplane mode. Dia menulis pesan untuk seluruh jajaran KAI melalui milis grup. Begitu mendarat, pesan langsung menyebar.

Syuhada
Jonan tidak bisa menutupi kekecewaan dan kesedihannya. Hingga mendekati penghujung 2013 PT KAI berhasil menurunkan Peristiwa Luar Biasa Hebat (PLH) hingga ke angka paling rendah sepanjang sejarah KAI. PLH adalah kecelakaan yang akibat tabrakan antar kereta atau karena anjlokan.

Hingga awal November 2013, terjadi tujuh anjlokan, turun drastis dari 54 anjlokan selama 2012, atau 79 anjlokan pada tahun 2009 ketika Jonan pertama kali masuk KAI.

Angka tabrakan antar kereta, hingga awal Desember 2013 nihil. Tahun 2012 masih terjadi tiga kasus, tahun 2009 tujuh kasus.

Jika sampai akhir tahun ini tidak terjadi PLH tabrakan, zero accident, jelas merupakan sebuah PLH: Prestasi Luar Biasa Hebat!

Yang masih kerap terjadi adalah kecelakaan lalu lintas pada perlintasan sebidang, seperti terjadi di Bintaro Senin siang itu. Data Kementerian Perhubungan, dari 1 Januari hingga November 2013 terjadi 79 kecelakaan lalu lintas di perlintasan sebidang.

Perlintasan sebidang memang rawan kecelakaan. Ketidakdisiplinan pengendara kendaraan bermotor hanya salah satu penyebab. Apalagi banyak perlintasan liar tanpa palang pintu dan penjaga resmi. Di wilayah DKI Jakarta saja ada 506 perlintasan, hanya 186 yang masuk kategori resmi dan dijaga.

Idealnya pada perlintasan sebidang yang rawan kecelakaan, dibangun flyover atau underpass. Isu pembangunan flyover/underpass ini sempat mencuatkan pro dan kontra di antara sejumlah pihak. Kecelakaan perlintasan sebidang Bintaro menyadarkan kembali tentang keharusan untuk membangun underpass atau flyover itu.

Kembali ke Jonan. Begitu mendarat di Soekarno Hatta, dia langsung menuju lokasi kecelakaan di Bintaro bersama Wamenhub Bambang Susantono. Dia di sana sampai selepas pukul dua dini hari, hingga evakuasi bangkai truk tanki dan rangkaian KA yang terguling dan terbakar selesai.

Toh sesampai di rumah dia sama sekali tidak bisa tidur. Dia terus memantau dan memberi instruksi untuk normalisasi lintasan. Targetnya Selasa pagi lintasan sudah bisa dilalui. Minimal satu jalur. Target itu berhasil dipenuhi.

Selasa pagi Jonan mendampingi Wakil Presiden Boediono mengunjungi korban di RS Sutoyo. Seorang ibu korban kecelakaan menuturkan, menjelang terjadi tabrakan masinis masuk ke gerbong wanita -gerbong terdepan- untuk memperingatkan penumpang. Masinis dan teknisi punya kesempatan untuk menyelamatkan diri. Tapi keduanya memilih untuk memperingatkan para penumpang dan tetap berada di tempat tugas.

Jonan mencucurkan air mata mendengar cerita itu. Ada rasa haru yang mendalam, mendengar dedikasi dan militansi anak buahnya pada tugas dan tanggung jawab.

Jonan menyebut para petugas KA yang tewas dalam kecelakaan di perlintasan Bintaro itu sebagai syuhada. Sebagai bentuk tanggung jawab, ia mempersilakan istri atau saudara kandung para “syuhada” itu untuk menjadi karyawan KAI, tanpa tes, tanpa batasan umur, sesuai pendidikan yang bersangkutan.

Jika punya anak, KAI akan menanggung bea siswa hingga ke jenjang perguruan tinggi.

Inikah firasat yang mendorong Jonan menelepon Rono Pradipto Minggu sore itu? Wallahu a’lam.

Penulis : HM Djuraid.

Sumber : Jakarta Kompasiana, 10.12.13.
[English Free Translation]
Sunday afternoon December 8, 2013, at 17:00. President Director of PT Kereta Api Indonesia (Persero) Ignasius Jonan called Rono Pradipto, Director of Safety and Security. Not as usual, Rono’s phone is off. Jonan repeatedly calling, no response. Is there a hunch behind miscalled ?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar