Rabu, 21 Agustus 2013

[KU-224/2013] Palembang : Klaim Tak Banyak Urbanisasi

PALEMBANG: Usai Lebaran Idul Fitri tidak hanya momen arus balik. Banyak pemudik yang kembali ke kota membawa serta sanak, saudara maupun teman. Tak sedikit pula yang tanpa kenalan nekat mengadu nasib demi sebuah kehidupan yang lebih baik.

Mereka inilah yang menjadi penduduk baru sebuah kota. Dan Palembang menjadi salah satu tujuan untuk mengadu nasib. Apalagi, pembangunan di provinsi terkaya kelima ini terus melaju pesat pasca-PON XVI 2004 dan SEA Games XXVI 2011 lalu.

Sebagai ibu kota provinsi Sumsel, Palembang menjadi alternatif karena Jakarta sudah terlalu padat. Tingkat persaingan di daerah khusus ibu kota itu sudah semakin tinggi. Sulit bagi mereka yang tidak punya bekal memadai untuk bersaing meraih pekerjaan yang layak. Karena itu penduduk datangan ini berharap berkah dengan datang ke Palembang.

Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disducakpil) Kota Palembang M Ali Subri mengatakan, jumlah penduduk baru yang masuk Palembang pasca-lebaran  memang ada. Namun   ia mengklaim jumlahnya tidak terlalu banyak.

“Estimasi peningkatan penduduk pascalebaran hanya sekitar satu persen dari total penduduk Palembang yang 1,6 juta jiwa,”katanya. Satu persen itu berarti sekitar 1.600 orang. Namun jumlah pendatang baru ke Palembang diperkirakan lebih besar dari itu.

Jika mengkaji jumlah penumpang arus mudik dan arus balik sejumlah moda transportasi, terdapat selisih yang cukup besar antara jumlah penumpang yang berangkat keluar Palembang dan yang datang ke Palembang (lihat grafis).

Airport Services Junior Manager PT Angkasa Pura II Sri Hartati AMd mengatakan, jika dibandingkan antara jumlah penumpang yang datang dan berangkat, maka secara total lebih banyak penumpang yang datang.

Kepala stasiun KA Kertapati, Zulkifli mengatakan, berdasar data saat ini, memang lebih banyak penumpang yang datang ke Palembang dibanding yang berangkat. ”Angka-angkanya terus bertambah. Puncaknya diperkirakan minggu 18 Agustus,”ucapnya.

Kondisi yang sama terlihat dari data pada posko Lebaran di pelabuhan 35 Ilir. Jumlah penumpang yang tiba di pelabuhan lebih banyak dibanding yang berangkat. “Lihat saja dari data ini,” kata Purwoto S, kepala operasional pelabuhan 35 Ilir sambil menjelaskan data yang terpampang di posko Lebaran tersebut.

Ali menyatakan pihaknya tidak melakukan razia atau sejenisnya. Meski begitu, kinerja kelurahan, rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW) lebih diintensifkan. Sesuai ketentuan, pendatang baru di suatu tempat wajib lapor ke ketua RT. Ada yang dalam waktu 1 x 24 jam atau 3 x 24 jam.

 Nantinya, ketua RT akan melapor kepada kelurahan, lalu diteruskan ke kecamatan. Pada akhirnya data sampai ke tangan Wali Kota sebagai pengambil kebijakan melalui bagian tata pemerintahan daerah.

”Kami menunggu laporan pendudukan baru musiman ini dari kecamatan, kelurahan RW dan RT. Nantinya akan ditelusuri lagi berapa pastinya urbanisasi yang terjadi ke Palembang,”beber Ali. Sebagai satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang mengurusi kependudukan, Disdukcapil harus tahu untuk tujuan apa pendatang baru itu datang ke Palembang.

“Kalau mau menetap, mereka harus memiliki surat pindah dari daerah asal masing-masing. Setelah itu sesegera mungkin melapor ke RT, kemudian membuat kartu keluarga (KK) dan pada akhirnya melakukan perekaman e-KTP,”paparnya.

Menurut Ali, pendatang baru di Palembang ada yang tujuannya melanjutkan sekolah/pendidikan tinggi. Tapi tidak tidak sedikit pula  yang mencari pekerjaan. Nah, mereka ini kebanyakan mengincar sektor informal.

”Mayoritas pendatang baru hanya lulusan SD atau SMP,”cetusnya. Pekerjaan yang disasar pun mengandalkan tenaga seperti buruh bangunan, dan lainnya. Wilayah incaran pendatang baru biasanya yang perkembangannya pembangunan cukup pesat seperti Sukarami, Jakabaring, Ilir Timur I dan Alang-Alang Lebar (AAL).

Pendatang baru di Palembang berasal beberapa daerah penyangga seperti Ogan Ilir, OKI, Banyuasin dan Muba. Tentu saja dari kabupaten/kota lain di Sumsel juga memberikan sumbangsih dalam pertambahan penduduk Metropolis. Sebagian kecil lainnya dari luar Sumsel, bahkan luar negeri.

Salah satu lokasi yang punya potensi menambah warga baru yakni eks lokalisasi Kampung Baru. Ada sekitar 600 warga yang bermukim di RT 29 jalan Teratai, Sukarami itu. Namun sebagian merupakan warga datangan yang melakoni pekerjaan sebagai pekerja seks komersil.

Pada Lebaran Idulfitri ini, mereka pulang ke kampung halaman masing-masing.  “ Sekitar 200 – 300 warga pulang ke kampungnya. Belum ada yang pulang ke sini lagi dan sekarang masih sepi,” ungkap ketua RT  29, Sanphanikawa Kuadrat, kemarin.

Sebagian dari mereka asal Banding, Jawa Timur dan daerah lain. Tidak ada lagi daerah yang mendominasi profesi jual diri di eks lokalisasi tersebut. Biasanya, saat kembali usai Lebaran, mereka akan membawa orang baru. ”Bisa dua hingga tiga orang. Tapi sepertinya tahun ini sepi, tidak seperti tahun lalu,”cetusnya. Karena itu, ketua RT 29 tersebut memprediksi tidak terlalu banyak pertambahan warganya usai Lebaran ini.(yun/cj7/cj8/uni/ce1)

Sumber : Sumatera Ekspres, 15.08.13.

[English Free Translation]

After Eid is not only the moment of reversal (arus balik). Many travelers who returned to the city brings with relatives, siblings or friends. Not a few acquaintances that without daring to venture for a better life. Large cities become the choice of most newcomers.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar