Rabu, 04 November 2015

[KU-300/2015] Tajuk Rencana: Membangun Kereta Cepat Berbiaya Murah

JAKARTA: Keinginan untuk memiliki transportasi penumpang massal yang aman, tepat waktu, dan mudah dijangkau belakangan ini terus mengemuka. Moda transportasi darat yang jadi pilihan, pastinya adalah KA. Moda ini dirasakan memenuhi tuntutan sebagai transportasi massal yang relatif bebas hambatan sehingg paling banyak menarik minat masyarakat untuk menjadi alat transportasi utama untuk beraktivitas.

Contoh yang paling jelas adalah KRL atau commuter line yang menghubungkan Jakarta dengan daerah penyangga. Setelah dirasakan kian nyaman dengan adanya ruang parkir yang luas, kereta berpendingin udara, relatif tepat waktu, kian banyaknya rute, tidak ada pedagang di dalam kereta dan berbagai perbaikan lainnya, pengguna moda itu meningkat drastis.

Pada 2011 penumpang per hari baru sebesar 331.760 orang. Pada tahun ini jumlahnya sudah mencapai 914.840 penumpang per hari, atau naik 139%. Untuk transportasi di luar Jawa, pemerintah berencana membangun jalur rel kereta di Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan.

Bahkan, untuk menghubungkan kota-kota di Jawa, pemerintah telah menyiapkan untuk membangun kereta cepat, seperti jalur Jakarta-Bandung yang saat tendernya menyita banyak perhatian karena melibatkan ‘adu kekuatan’ negara besar Asia, yaitu Jepang dan China, serta kereta cepat Jakarta-Surabaya.

Keinginan untuk memiliki kereta cepat itu sebenarnya bisa dipenuhi oleh PT KAI dengan biaya yang relatif jauh lebih murah. Kecepatan kereta saat ini, misalnya lokomotif CC 206 bisa mencapai 160 km/jam, sehingga jarak Jakarta-Surabaya yang 683 km bisa ditempuh dalam waktu 4 jam.

Masalahnya, saat ini perjalanan kereta tersebut banyak menghadapi hambatan dengan adanya persilangan sebidang di pertemuan rel dengan jalan darat yang jumlahnya ratusan. Apabila semua persilangan ini ditutup, maka perjalanan kereta bisa optimal.

PT KAI mengklaim telah menghitung biaya untuk membuat jalan layang atau terowongan bawah jalan raya (under pass) serta pembuatan pagar pembatas rel dari Jakarta-Surabaya sekitar Rp11 triliun. Angka ini jauh lebih rendah dari nilai investasi kereta cepat Jakarta-Bandung yang lebih dari Rp70 triliun.

Tidak ada salahnya pemerintah mempertimbangkan masukan ini. Karena, kalau pernyataan PT KAI ini benar, maka kita serasa memiliki banyak “kereta api cepat” yang mampu berjalan 160 km/jam, mengingat PT KAI memiliki 150 lokomotif berjenis CC 206 buatan GE tersebut.

Sumber : Bisnis Indonesia, 04.11.15 / Foto : flickr.

[English Free Translation]
The desire to have a mass passenger transportation with safe, timely, and easily accessible these days continue to arise. Land transport modes that be an option, certainly is train. This mode meets the demands perceived as transport. Now it's a good time.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar